Tampilkan postingan dengan label mari curcol ;). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mari curcol ;). Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2016

Entahlah...


Hmmm sesungguhnya, aku hanya kurang mengerti dengan perasaan diri sendiri. Kasarnya, bagaimana bisa mengerti perasaan orang lain kalau perasaan diri sendiri saja sebenarnya kamu tidak dapat menjelaskannya?AH.

Lagi-lagi aku terjebak dalam perasaan diri sendiri. Bagaimana bisa perasaan mu tak kunjung berubah ketika orang yang akhir-akhir ini selalu ada dalam pikiranmu hanya datang padamu ketika dia butuh saja? menghubungimu ketika ada maunya, ketika ada sebabnya? Ketika (mungkin) sedang tidak ada orang lain yang ingin mendengarnya?

apakah ada perasaan yang dapat membuat seseorang menjadi sangat buta? Kenapa ketika alasan “ketika dia butuh saja” terlalu menyakitkan untuk didengar dan dirasakan? Tapi, kenapa rasa sakit itu hanya berlangsung sebentar saja dan justru menjadi salah satu hal yang membuat rasa rindu semakin menjadi (?)

sungguh, akhir-akhir ini dia mendominasi pikiranku. Apa sebabnya? apa karna sosmed dia udah aktif lagi? Atau memang karna masih banyak ‘rasa’ yang belum tersampaikan?

Oh, Tuhan.. Engkau maha tau, aku adalah seorang yang tidak mudah untuk melupakan sesuatu hal. Walau (mungkin) hal sekecil apapun. Apalagi hal-hal yang menyangkut perasaanku ini.

Ketika itu, saat hari rabu abu. Aku berniat menengok adik kelas yang dirawat di salah satu rumah sakit. Entah saat pagi hari atau hari sebelumnya, aku memang bertanya pada dia, apakah akan menengok atau tidak dan kesimpulannya dia memang akan datang ke rumah sakit tapi saat malam hari jam 9 malam karna sebelumnya dia harus mengikuti rapat salah satu komunitasnya (dia memberikan jawaban itu saat aku mengajaknya misa rabu abu bersama). Aku sudah berpikir, Ah berarti tidak akan bertemu. Ahyasudahlah, mungkin kapan-kapan lagi...

Tapi, ketika dirumah sakit.. aku mengirimkan pesan yang isinya kalau posisi aku memang sedang berada disana. Entah beberapa saat kemudian, dia muncul. Aku sungguh kaget. Aku tersenyum. Ah, kenapa dia sering muncul secara tiba-tiba.. ketika dia datang dan mendekat, ada keheningan ada senyuman ada tatapan. Hingga entah harus berkata apa, kalimat pertama yang aku ucapkan yaitu, “loh, kumisnya kemana?” dia tersenyum tanpa jawaban, akupun ikut tersenyum.

Hahaha. Dia baru cukur kumis. Kumisnya sekarang tipis. Dia hanya tersenyum (lagi-lagi). Baru duduk sebentar, udah didatengin satpam supaya yang jaga diruangan ga banyak. Dengan cepat, dia mengajakku keluar.  Tanpa berpikir apapun, aku langsung berdiri dan mengikutinya. Oh Tuhan, apakah dia mempunyai magnet yang begitu kuat?

Dia bercerita, kalau rapat dengan komunitasnya mendadak tidak jadi. Entah itu benar atau tidak. Apa sengaja tidak ikut rapat atau ingin bertemu denganku ketika mendapat pesan dariku? Hanya dia saja yang tau~

Di hari itu, dia memang sudah janji dengan yang lain akan jaga malam adik kelas kami. Namun dengan alasan dia mempunyai banyak tugas kuliah, dia mengingkari janjinya sendiri, disanapun ada adik kelas yang lain yang bisa menjaga tapi tidak membawa baju ganti, dengan cepat diapun menawarkan untuk mengantarnya mengambil baju ganti supaya dia dapat jaga malam. Dan dia bilang padaku, “kamu tunggu disini, jagain sebentar. Nanti dianter pulang” dan disitu udah sekitar jam 9 malam. Aku yang hanya berpikir sebentar, langsung mengiyakan kata-katanya. Lagi-lagi, dia sebenarnya punya magnet jenis apa sih?

Aku menunggu, dan menunggu. Iya, menunggu dia datang lagi.

Setelah sejam, aku mengirim pesan dan dia bilang masih dijalan. Entah dijalan yang mana..

Mungkin sudah sekitar jam setengah sebelas malam. Ketika adik kelas yang akan menjaga malam sudah datang, akupun ingin segera bergegas karna sudah cukup malam, akupun pergi ke ruang tunggu karna dia menunggu disana. Dan ada banyak adik kelas yang lain juga. Dengan wajah lelah, aku mendatanginya. Aku duduk sebentar untuk basa-basi, dia lalu mengajak pulang. Ya, memang aku ingin cepat pulang saat itu, semacam ada rasa sedikit lelah. Aku hanya tidak habis pikir dengan diri sendiri, kenapa seakan-akan aku mengikuti saja apa yang dia katakan.

Akhirnya dia mengantarkan aku pulang. Terlalu banyak cerita didalam perjalanan.

Sekitar jam sebelas malam. Dia berniat untuk mencari makan dulu dan dalam perjalanan sambil mencari atm. Berhenti, dan dia pergi. aku menunggu dimotor. Ketika dia kembali menuju padaku, dia terlihat senyum-senyum. Aku langsung bertanya dan dengan kampretnya dia menjawab ”Kamu lucu pake helm” HAHAHA. Astaga. Ada aja ya yang bikin senyum-senyum sendiri lagi. Senyum-senyum dibalik punggung rider yang satu ini.

Kami pun bertemu dengan tempat makan dipinggir jalan yang masih buka. Dia memesan makan, aku tidak. “Aku mah hanya nganterin dan mau ngeliatin dia makan aja, Mas” jawab aku pada Mas-mas yang nawarin makan. Ditempat itu, dia banyak cerita. Cerita tentang dirinya, keluarganya, wanita-wanita yang dekat dengannya, mantan-mantannya, kecengan-kecengannya. Sungguh dia menceritakannya dengan detail. Hati kecilku berkutik, tidakkah kamu mengerti isi hatiku? Mendengar semua tentang wanita-wanita itu? Apakah aku terlihat sangat berpotensi menjadi pendengar yang baik, sampai tak terlihat kekecewaan? Atau aku memang seorang yang terlalu pandai menyembunyikan segalanya? Atau itu merupakan suatu kesengajaan agar aku tidak terlalu mengharapkannya? AH, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang memungkinkan atau tidak mungkin sekalipun. Lagi-lagi hanya dia yang tau dan mengerti dengan rasanya sendiri.

Aku tidak bermaksud ingin menceritakan kejelekannya, sungguh tidak ada maksud. Aku mengerti, ketika kamu tidak mempunyai hubungan atau status dengan seseorang, kamu bebas dekat dengan siapapun. Tapi tidak berarti semuanya diberikan porsi yang sama, perhatian yang sama di waktu yang sama pula. Wanita mana yang ingin dijadikan percobaan? Perumpamaan? Persinggahan sementara? Apakah kita seperti terminal? Bandara? Ruang Tunggu? Sebegitunyakah?

Rabu, 07 Oktober 2015

Terima kasih ya, september :)



Sungguh, merupakan berkat yang sangat luar biasa untukku masih bisa menghirup udara di muka bumi ini. Di bulan september ini.. aku tidak bermaksud membeda-bedakan bulan lain. Di hari-hari di bulan september yang katanya september ceria ini banyak sekali cerita yang mungkin dapat dijadikan pelajaran untukku.
Aku ingin berbagi cerita yang terjadi di bulan ini. Aku sangat ingin menceritakannya secara detail, biar apa? biar tidak hanya aku yang merasakan kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kegalauan dan ke- -an yang masih banyak lagi.
Dimulai dari pertanyaan dan pembicaraan yang muncul diakhir agustus, via bbm.. seseorang menyatakan rasanya padaku. Rasa suka. Hanya rasa suka. Iya, suka. Katanya sih suka banget. Tapi, aku kurang mengerti sama alasannya yang hanya mengcopypaste dari alasan aku mengapa mempunyai rasa padanya. Aku bilang kalau aku merasa nyaman.
*flashback* [bulan desember tahun lalu, yang entah mengapa aku bilang kalau aku ada rasa padanya. Aku tau saat itu dia tidak ada rasa apapun. Tapi, kata lagu jaman dulu yang katanya “aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku” sepenggal lagu itu tampak nyata. Dengan memberikan perhatian-perhatian yang sungguh tidak di buat-buat, pada akhirnya dia ada rasa padaku.] tapi, sungguh aku sangat bangga padanya karna dia dapat melakukan “janji”nya di masa lalu. Yang katanya, janji akan buka hati untuk orang lain. ya, mungkin itu salah satu pembuktiannya. Pembuktian janji masa lalu.
Di awal september, kami hampir setiap hari bertemu. Jalan kaki bersama ke tempat tujuan. Mulai dari bisa bercanda, bercerita, cekakak-cekikik bersama sampai sama-sama hening dan hanya saling melihat pandangan mata yang seakan ingin berbicara.. dia, sungguh memberikan perhatian padaku. Memberikan senyuman lebarnya di kala bertemu. Tiba-tiba datang ke tempatku ketika sedang sepi (yang hanya ditemani oleh lembar revisian). Mengusap kepala (macam ngusap kucing). Menggendongku saat aku sesak napas sampai “ketiduran” di rumput (aku berat loh, beneran berat). Berbisik kalimat di depan banyak orang. Membuat tanda salib di dahiku (udah kaya mama aku aja) di depan banyak orang. Mengirim pesan yang isinya “ngapain ngeceng yang lain, kan udah ada kamu”. Ah dasar gombal :( Sungguh, aku terlena dengan segala perhatiannya. Setiap hari memberikan kabar dan sampai di titik hari yang tanpa kabar, itu membuat rasa kesal muncul. Seakan ada yang lain. Seakan menemukan hal yang lebih menarik di luar sana. Seakan ada yang hilang. Aku –yang menunggu kabar hingga tengah malam. Hanya bisa mengecek handphone yang tak kunjung ada kabar. Sekalinya bergetar, itu dari ind*sat. Ah, bangs*t. Aku sungguh tidak ingin berada di posisi bodoh seperti ini. Hingga di salah satu grup medsos dia muncul. Tapi tidak memberikan kabar apapun padaku. Oke sip, anggap saja aku bukan siapa-siapanya. Aku, bukannya tidak mau menyapanya duluan, tapi aku hanya ingin menunggu saja. Menunggu kepastian apakah aku ini benar-benar yang pasti untuknya atau tidak.
Kesal. Sungguh aku sedang sangat kesal saat ini. Kesal karna tidak tau apakah harus menunggu atau menghubungi terlebih dahulu. Aku hanya tidak siap untuk mendengar alasan-alasan yang tidak masuk akal darinya. Dan aku pun hanya tidak siap untuk diabaikan apabila dia tidak memberikan jawaban ketika diberikan pertanyaan. Duh. Berat kalimatnya. Semoga ngerti yah yang baca. Hm.
Akhirnya, di hampir akhir penghujung september, kami bertemu tanpa tidak disengaja. Kami satu fakultas. Ada banyak kemungkinan untuk bertemu secara tiba-tiba. Di hari itu, aku memang hanya ingin cepat menyelesaikan apa saja yang harus diselesaikan di hari itu. Jadi, jalannya memang agak rusuh. Ketika jalan, aku melihat segerombolan teman-temannya dan aku pun tau ada dia disana. Namun aku tetap jalan lurus, tanpa menoleh. Tapi, saat aku akan belok. Aku menoleh ke belakang. Ah, kenapa aku tampak mencarinya? Ah, kenapa kalimat-kalimat ini tampak semakin kaku. Hiks. Setelah selesai semuanya, aku turun tangga. Dan... kami bertemu di belokan tangga. Aku mau turun, dia akan naik. Dia bersama satu orang temannya, aku hanya sendiri. Aku tampak kaku saat itu, entah kenapa senyumku tampak tertahan disana. Sungguh, perasaanku campur aduk. Rindu, tapi sedikit dibumbui rasa kesal, rasa kecewa. Dibelokan itu, kami sama-sama berhenti berjalan. Sama-sama saling menatap. Dia mengarahkan telapak tangannya kepadaku, tanda ingin sekedar “toss”. Aku, yang di tangan memegang satu buku dan perahu kertas di tangan kanan, memindahkan ke tangan kiri dan menggapai tangan kanannya. Hanya sekali toss dan satu kalimat yang keluar dari mulutnya, “aku ga ada pulsa”. Aku, yang saat itu tanpa ekspresi hanya bisa melontarkan satu kata saja, “okey”. Tanpa basa basi busuk lagi, aku pergi. Satu orang temannya yang ada disana saat itu hanya melihat kami dengan datar. Aku semacam tidak bisa apa-apa, semacam tidak ada apa-apa, semacam tidak ada apapun yang harus dibicarakan. Emang ga ada yang harus dibicarakan kan? (bohong). Semacam tidak terjadi apapun. Semacam tidak ada hubungan apapun. Semacam tidak ada rasa yang tertinggal apapun. Dan sampai berakhirnya bulan september ini, sama sekali tidak ada kabar apapun. Terima kasih sudah membuat terbang, terbang tanpa sayap dan membuat jatuh, jatuh kehilangan kendali.
Mari kita move ke seorang yang lain. Karna di bulan september ini, aku tidak hanya bertemu dia yang diceritakan diawal tadi. Aku bertemu dengan banyak orang di masa lalu yang “dipertemukan” di bulan yang penuh cerita ini. Seseorang yang hanya menghubungiku ketika dia membutuhkan sesuatu (butuh cewek). Seseorang yang kata salah satu temanku, dia playboy tapi aku tetap mempertahankan rasa. Seseorang yang pernah ada di masa lalu. Seseorang yang pernah sms di kala aku sedang KKN di Subang. Seseorang yang tahun lalu di bulan yang sama memboncengku dan membuatku tampak menjadi seorang wanita yang sudah move on (saat itu). Seseorang yang pernah bertukar kado natal di awal januari 2015. Seseorang yang pernah membuatku menunggu hampir lima jam. Seseorang yang marganya bisa berhubungan denganku. Seseorang yang wisuda bulan ini (tanpa ada yang tau, bahkan soulmate nya pun seakan-akan tidak tau ketika ditanya). Seseorang yang berulang tahun di bulan ini. Seseorang yang.... justru hampir kuhindari di bulan ini. Mungkin aku terlalu baper karena di salah satu acara dibulan ini, dia datang bersama yang lain padahal kan tahun lalu dateng sama aku hahaha baiklah, harus ingat. roda itu berputar. Okesip. Saat itu, entahlah. Aku hanya terlalu bingung harus apa, hanya ingin menghindar. Hanya tidak tau apa yang harus dibicarakan. Hanya tidak ingin gadis yang diboncengnya di hari itu melihatku bersamanya, aku hanya menjaga perasaan si gadis itu. Gadis yang justru sedang menikmati salah satu hasil umpan-umpan yang disebarkan.
Terima kasih banyak september, sungguh terlalu banyak cerita di bulan ini. Aku sebenarnya masih ingin bercerita banyak. Tapi, biar aku saja dulu yang merasakan bulir-bulir cerita yang ada. Nanti aku ceritakan kalau aku mau. Terima kasih Tuhan untuk setiap detik yang ada. Aku tau, setiap sepermili detik apapun kejadian yang terjadi, semuanya itu atas kehendakMu. Terima kasih banyak :”)

Senin, 13 Juli 2015

dia yang lain



Jumat, sebelas juli dua ribu lima belas.. siang hari.
Ada aku, di taman bareti. Sendiri. –dan belum janjian dengan siapapun- hanya dengan kertas angket revisi-an.
Lalu, aku update status di bbm “baret(i)”.. seketika ada seseorang yang mengomentari statusku tapi berkomentar dengan pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan statusku. Dia hanya menanyakan bagaimana kabar UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) kami dan aku pun menjawab semua pertanyaannya. Sampai pada titik habis pembicaraan (dan tidak ingin langsung usai) aku pun bertanya tentang keberadaan dan aktivitasnya saat itu. Dia bilang hanya sedang berbaring di kosan alias malas-malasan tanpa aktivitas apapun.
Kami sudah cukup lama tidak bertemu dan mengobrol secara langsung. Iya, sudah cukup lama. Hanya bertukar obrolan di sosial media, hanya sebatas itu.
Aku, yang hanya sendiri di taman bareti. Dengan tidak sengaja mengajaknya datang. Dia bertanya ada apa di bareti, ada aku, jawabku. Di sini sepi, jawab ku lagi. Lalu dia menjawab sambil mungkin menjadi pertanyaan “jadi ceritanya pengen di temanin” dan aku menjawab seadanya, “kalo yang peka sih mungkin mikirnya gitu”. Di dalam pembicaraan itu, aku sungguh tidak benar-benar mengharapkan ditemani olehnya. Dia hanya menjawab “Iya”. Yang entah jawaban untuk apa karena semacam bukan jawaban yang serius.
Tapi, entah kenapa.. memang di dalam pembicaraan itu, aku sungguh-sungguh mengajaknya untuk hadir juga disana.
Selang beberapa menit kemudian, dia datang. Dia muncul dihadapanku. Jam 13:18. Dia duduk di kursi semen kosong di sebelah kiri ku. Sungguh, itu pertemuan yang awkward. Dia tersenyum. Dengan wajah yang terlihat baru beranjak dari kasur dan dengan muka yang terlihat hanya dibasahi air. Sedangkan aku, sedikit ngoceh sembari memukul kecil dan mencubit sedikit lengan kanannya karena tidak menyangka dia datang dengan hanya mengatakan “Iya” dalam pembicaraan di social media tadi. Seketika hening sejenak, aku –dengan kertas revisian ku ditemani dengan tindakan yang entah harus bagaimana.
Dia-dengan jari-jari jempol yang sibuk mengetik di handphonenya dan aku-dengan kertas yang di bulak-balik supaya sedikit memecahkan keheningan.
Aku hanya nyanyi-nyanyi kecil sambil bergumam di dalam hati, entah apa yang akan terjadi lagi setelah ini.
Aku melihat sosoknya yang masih membuatku tidak menyangka dia datang ke tempat itu untuk menemaniku. Dia, memakai jaket hitam dengan menutupi kepalanya menggunakan penutup kepala di jaket. Kumisnya nampak semakin panjang dan janggutnya semakin lebat. Sungguh, itu tampilan muka seorang lelaki yang sudah cocok mempunyai anak kelas enam sekolah dasar dan anak yang kedua mungkin masih di taman kanak-kanak. 
Kami ngobrol sedikit, entah membicarakan apa. Yang pasti bukan tentang masalah rasa.
Setelah cukup lama, dia mengajakku untuk pergi ke tempat UKM kami berkumpul, sekre. Karena kami sama-sama tau, ada beberapa teman kami yang sedang berada disana. Kami mengobrol dengan yang lainnya.
Singkat cerita, kami pergi makan ke warung surabi, dengan dua orang teman kami juga. Kami berempat, dia satu-satunya lelaki cantik diantara kami. Haks.
Kaku. Iya. Kami sama-sama kaku kalau dibiarkan hanya duduk bersebelahan berdua. Terima kasih untuk kedua temanku yang bisa memecahkan suasana... walaupun pada akhirnya, kalian tetap bilang... “kamu kayak kanebo kering”.
Kami berempat banyak sekali bercerita. Cerita kami sangat random, membicarakan apapun yang terlintas di pikiran kami. Tapi, ada satu topik yang memang itu-itu lagi yang dibahas, yang tidak lain dan tidak bukan adalah tentang “jodoh” hahaha. Posisi kami disana memang sudah sama-sama berumur, sama-sama kepala 2, sama-sama sedang single, sama-sama menanti seseorang untuk di masa depan nanti.
Dari segala persamaan yang ada, kami pun ternyata memang sungguh berbeda, ada yang batak, flores, campuran batak dan flores, dan kalimantan. Ada yang sedang senang, sedih, kesel, biasa saja, bingung, atau mungkin.. jatuh cinta.
Banyak sekali pelajaran yang membuat berpikir. Kalimat-kalimat yang dapat menganggukkan kepala, quote-quote yang membuat nyengir, dan masih banyak lagi.
Singkat cerita lagi, akhirnya kami pulang. Setelah aku sampai di rumah, aku mengucapkan terima kasih pada dia. Dia yang dengan polosnya menjawab terima kasih untuk apa? Aku yakin itu bukan pertanyaan yang benar-benar pertanyaan. Dia hanya ingin memastikan apa yang dia pikirkan dengan apa yang akan aku jawab. Dan pada akhirnya kami tetap chatting-an sampai tengah malam. Pembicaraan kami seakan-akan sehari tadi itu sangat kurang untuk bertemu dan ngobrol.
Terima kasih pernah muncul di saat yang tidak pernah di duga. Terima kasih sudah banyak mengukir cerita. Terima kasih pernah ada. Terima kasih untuk senyumannya. Terima kasih.

Minggu, 23 Februari 2014

dia (2)



Ternyata rasa sayang itu terkadang harus diungkapkan! Hahaha…
Dia.. iya, ini masih saja menceritakan tentang dia.. dia, yang masih saja ku sayangi. Entah kenapa rasa sayang itu ada dan muncul dengan sendirinya.
Dia, yang saat di akhir bulan desember menanyakan apa yang memang seharusnya dia tanyakan. Aku jadi lebih tau, kalau pertanyaan-pertanyaan itu mungkin memang yang selalu mengganjal dipikirannya. Hanya saja, terlalu takut untuk memulainya dan menanyakannya. Mungkin. Tapi kenyataannya memang seperti itu.
Memang di jaman yang sudah cukup sangat canggih ini, kita bisa tau apa saja yang sedang dilakukan orang-orang di luar sana, dengan hanya membaca “update-an status” dari media sosialnya. Sebut saja salah satunya adalah whatsapp, media sosial pengganti sms-an yang mudah dan tidak banyak mengeluarkan banyak biaya. Mungkin ini yang membuat hasrat diri untuk terus melihatnya, menyapanya.
Terlalu sering menanyakan hal-hal yang penting, yang sedikit penting, yang agak penting, sampai hal yang tidak penting pun pernah dibahas dengannya dan dia menganggap hanya lima persen saja dalam pembicaraan kami yang benar-benar termasuk ke dalam hal yang penting dan yang lainnya hanya membahas hal-hal yang tidak penting. Aku sendiri kurang paham hal-hal yang penting dan yang tidak penting itu yang seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
Waktu itu dia pernah bilang kalau aku punya banyak salah padanya. Tapi, aku sungguh benar-benar tidak tahu kesalahannya. Entah kenapa. Beberapa kali menerka-nerka ke kejadian-kejadian ke belakang, sungguh aku tidak menemukan kesalahan-kesalahan yang dia sebut “kesalahan kamu banyak” itu. Saat itu yang aku temukan hanya satu hal, yaitu dimana aku memanggil namanya seperti orang sunda, contohnya apabila huruf F malah di baca dengan menggunakan huruf P. aku hanya berpikir kalau kesalahanku ada disitu. Tapi, ketika diungkit lagi dan diungkit-ungkit lagi, ternyata bukan itu. benar-benar bukan itu.. semua ketidakjelasan itu hanya membuatku bingung dan hanya semakin ingin menyapa dan bertanya padanya apa sebenarnya yang salah, apa yang sebenarnya yang mengganjal, apa yang tidak sinkron dengan pikirannya... intinya, hanya ingin tau. Hanya ingin tau apa yang menjadi kesalahan aku yang sebenarnya. Siapa tahu pernah melakukan sesuatu yang membuatnya sakit atau apalah.. tapi, aku ga pernah menemukan jawabannya.
Tibalah saat hari natal, aku duluan yang mengucapkan selamat natal padanya, dan dia mengucapkannya juga. Mengucapkan hanya dengan memforward dari ucapan natal yang mungkin masuk ke nomer handphonenya. Karna masih penasaran dengan apa yang dia bilang tentang kesalahanku, aku hanya bisa memperpanjang balasan ucapannya dengan mengungkit hal “kesalahan” itu lagi. saat aku tanya pertama kalinya, dia bilang kalau dikasih tau bakal jadi masalah.
Sungguh alasan yang sangat sulit untuk dimengerti. Kalaupun iya akan menjadi masalah, bukankah semua masalah ada solusinya ?
Tibalah detik-detik semua pertanyaan akan terjawab sudah.. walaupun masih saja itu merupakan sesuatu yang sungguh tidak masuk akal, menurutku. Entah menurutnya.
Dia bilang, kalau aku terlalu baik. Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih karna sudah perhatian padanya. Sungguh, aku sangat tidak mengerti dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal itu. dia bilang lagi kalau aku terlalu baik untuknya dan melakukan hal “baik” itu menjadi suatu kesalahan yang beralasan untuknya. Iya untuknya saja, bukan untukku. Untuk sekian kalinya dia mengucapkan kalimat yang sama lagi, “salah kamu, terlalu baik sama aku.”
Tiba lagi saat-saat yang sebenarnya hanya bisa membuat speechless.. dan sepertinya nafas terasa mendadak berhenti saat itu. “kamu suka sama aku?” (sambil mengirim screenshot yang dia jadikan fakta untuk pertanyaan yang sangat mencekam itu..). aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, ha. Kalau dia sendiri udah tau jawabannya, kenapa harus bertanya lagi ? hanya untuk memastikan, iya.. sepertinya begitu.. dan hanya ingin mencari tahu kembali apa sebenarnya perasaan-perasaan yang sedang ada disana. Memangnya salah kalau kangen ? dia jawab, kalau kangen sama dia itu salah. Entah ada dibagian mana yang salah. Rasa kangen itu kan manusiawi. Iya kan?? Iyaaaaa. Dia hanya terlalu heran kenapa ada rasa kangen yang ada. Bodoh. Kurang peka. Kangen, karna udah lama ga “ketemu” dan “whatsapp” an. Udah itu aja (bohong). Lagi-lagi dia menanyakan alasan yang menurutnya masuk akal. Entah, entah apa yang ada dipikiranku saat itu. tapi, jari-jari tangan ini menghasilkan kalimat yang mungkin akan menjawab semua pertanyaannya..
“aku ga suka, tapi aku sayang. puas ? dan ga ada alasan kenapa rasa sayang itu ada.”
Dengan menjawab satu kalimat itu, langsung timbul beberapa pertanyaan yang semakin mencekam..
“kenapa bisa?”
“aku ngelakuin apa sampe kamu kaya gini?”
“ga nyesel kamu?”
“sayang sama bajingan kaya gini?”
“kalo rasa sayang itu ga terbalas gimana?”
“kamu udah tau kan?”
Tanpa pikir panjang, aku hanya bisa jawab.. aku ga pernah nyesel kalau sayang sama orang apapun kondisinya. Ga masalah ga terbalas, ga semua hal ada timbal baliknya.”
“makasih yah, udah sayang sama aku.”
Entah kenapa ucapan-ucapan makasih yang terlontar darinya sama sekali sulit untuk dijawab, saat itu. untuk mengucapkan “sama-sama” entah kenapa menjadi sangat sulit..
Lega. Sangat-sangat lega ketika sudah bilang sayang kepada orang yang kita sayangi. Walaupun sebenarnya masih banyak sekali yang ingin dicuap-cuapkan saat itu.
Dulu, pernah membahas tentang kepekaan dengannya. Aku selalu menganggap kalau dia hanyalah seseorang yang tidak mempunyai rasa peka. Tidak mengerti dengan yang disebut peka. Tidak peka sama sekali. Tapi, saat itu dia bilang “aku bukan ga peka, pura-pura ga peka.” Kenapa dan apa untungnya apa? Alasannya, Karena gabisa ngasih rasa sayang ke orang lain.”
Okesip. Itu semua udah memperlihatkan kalau dia hanyalah seorang yang belum bisa move on dari masa lalunya. Lalu? Mau seperti itu terus? Mau diam saja di posisi yang seperti itu? mau menyakiti diri sendiri berlarut-larut seperti itu? hanya dia yang bisa menjawab semua kalimat yang dihiasi dengan banyak tanda tanya itu..
“sakit ga?” tiba-tiba muncul pertanyaan yang membuat berpikir kembali untuk menjawabnya. Akhirnya aku hanya bisa jawab “ngga, karna udah banyak belajar dari orang lain juga kalau ada di posisi ini.” ditambah dengan emotion nyengir. ah. lega. lega-selega-lega-nya.
Dia bilang, jangan sampai gagal move on. Ini pengalaman buat kamu. Jangan sampe kaya aku.
Ha. Kata-katanya hanya membuatku sangat-sangat ingin ngejitak kepalanya :’)
Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa move on, tetapi nyuruh orang lain untuk bisa move on? Sungguh tidak masuk di akal……. Tapi, dia lagi-lagi bilang, ya udah jangan di contoh. (jangan dicontoh gabisa move on nya).
Aku hanya bisa bilang padanya “harus inget, kalau orang yang kita sayang bisa lebih bahagia sama orang lain ya kenapa ngga.”
Lagi-lagi dia mengucapkan “makasih”
Dan sekali-kalinya aku jawab, sama-sama, belajar buka hati buat orang lain ya. Namanya juga belajar ya bertahap, pasti bisa.”
“belum nemu orang yang pas.” | seiring berjalannya waktu *emot otot yang ada di whatsapp*
Akhirnya,, ada lebaran di tanggal duapuluh enam desember. Kenapa ? karna saat itu kami hanya bisa saling minta maaf, saling bilang makasih. Entah sudah berapa kali  dia minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Begitupun dengan aku.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, yang salah itu hanya perasaanku saja.