Dia.. dia memang seorang lelaki yang biasa saja, menurutku. Bukan hanya
menurutku sih. Beberapa orang disekitarku pun berkata hal yang sama. Bahkan
lebih dari yang aku bayangkan. Temanku bilang, dia orang Aneh. Autis. Sombong.
Cerewet. Awal aku melihatnya, aku pernah bilang pada diri sendiri kalau dia itu
memang orang yang sangat biasa-biasa saja. Orang yang tak mungkin pernah aku
beri hati. Tapi, kenyataannya sekarang apa? Hati aku sekarang ada pada dia.
Entah dia memakai jurus apa untuk mengambil hatiku. Sungguh, dia hanya
seseorang yang biasa saja. Tidak pernah terlintas sedikitpun akan terjadi
perasaan yang seperti ini. Aku kira aku bisa dengan setia dengan satu nama.
Tapi, ternyata dalam hal ini tidak. Dan aku pun harus bilang pada diri sendiri
kalau aku tidak boleh seperti ini terus, yang hanya mengharapkan seseorang di nangor sana, yang kelihatannya sudah
menemukan tulang rusuknya yang selama ini dia cari. Kalau kata anak gaul
sekarang sih, harus move on.
Kembali lagi ke dia. Setiap kali aku memikirkan dia, aku selalu
menerka-nerka, sebenarnya hal apa yang membuat rasa ini terus tumbuh?
Jawabannya muncul ketika aku mengingat “kejadian” yang pernah terjadi
bersamanya. Ketika itu, kami akan mengadakan sebuah camping. Karena kami
sama-sama panitia, kami ikut untuk survey tempat. Dia punya motor dan
membawanya. Hari itu, sepuluh orang yang akan survey. Aku kebagian dibonceng
olehnya. Saat itu, dia sendiri yang menawarkan supaya aku semotor dengannya.
Mungkin semua rasa ini terjadi disini. Mungkin.. Sungguh, aku tidak tau persis.
Mungkin aku terlalu menikmati keadaan, aku terlalu mendramatisir keadaan,
segala kejadian sekecil apapun dengannya dipikiranku bisa menjadi sesuatu yang
sangat ‘wah’. Dan itu hanya dipikiranku, entah dipikirannya bagaimana. Dan aku
tidak bisa menganggapnya seperti apa yang aku pikirkan.
Saat disana, dia baik, dia terlalu baik, dia perhatian. Pokoknya dia
baik. Banyak bercandanya. Mungkin memang begini rasanya menjadi orang yang
sangat suka mendramatisir keadaan. Aku jadi ingat seorang teman yang ada di
Jakarta kalau udah begini. Memang mungkin tidak terlalu persis dengan apa yang
dia bilang, tapi intinya, katanya, semua omongan orang jangan suka langsung
dimasukin ke hati, anggap biasa saja. Kadang, aku langsung mengikuti apa kata
dia. Tapi, sungguh.. hati ini tidak bisa berbohong. Terkadang hati memang tidak
sinkron dengan pikiran dan dengan apa yang dilihat.
Sudah terlalu banyak cerita antara aku dengannya. Aku tidak tau apakah
aku terlalu cuek atau bagaimana. Dan aku juga tidak tahu sebenarnya aku punya
rasa apa padanya, semuanya abstrak. Lagi-lagi abstrak. Kadang aku sangat
tergila-gila padanya, tidak suka padanya, illfeel,
suka lagi, tidak suka lagi, sayang lagi, suka lagi. Ah. Aku sebenarnya
tidak suka dengan keadaan hati yang seperti ini. Aku sering bertanya pada diri
sendiri tentang perasaanku padanya, tapi aku tidak pernah mendapatkan jawaban
yang benar-benar jawaban.
Setiap sedang berkelana di dunia maya, lagi-lagi selalu ada dia di
History. Sedikit-sedikit selalu ingin mengetahui keadaannya. Kalau kata orang
sih itu namanya Kepo. Yang katanya lagi kepo
is care. Aku tidak tau bagaimana caranya supaya tidak terlalu care dengan
orang lain (terutama dia). Memang, setiap orang punya urusannya masing-masing.
Tapi, apakah perhatian itu salah? Apakah ingin tahu apa saja yang dilakukan
seseorang itu salah? Aku pikir tidak. Kecuali kita benar-benar ikut campur
dengan urusannya. Ini kan nggak. Hanya sebatas ingin tahu saja. Hanya sebatas
untuk mengobati kerinduan padanya saja.
Aku pernah melihat update-an
statusnya tentang lagu bahasa inggris. Aku tidak tahu siapa penyanyinya dan
seperti apa kuncinya. Yang pada akhirnya aku mencari tahu siapa penyanyinya dan
bagaimana lagunya. Yaitu lagunya Lady Antebellum yang judulnya “need you now”. Yang
sampai saat ini aku masih menyukai lagunya. Apakah ini yang dinamakan
berlebihan? Apakah harus sampai seperti ini? aku rasa tidak. Aku harus dan
pasti bisa tidak memikirkannya (lagi). walaupun saat ini aku belum yakin
sepenuhnya. Tapi, mungkin suatu saat.. Tuhan tau kok apa yang terbaik buat aku :'D
Sudah terlalu banyak yang terjadi antara aku dengannya. Bukan dalam hal
yang negatif. Sebenarnya aku tidak mau berada pada posisi yang seperti ini.
terlalu banyak cerita tentangnya yang tidak bisa dibahas satu persatu. Aku
tidak mau mempunyai rasa yang terlalu jauh padanya. Tapi, aku tidak bisa.
Sungguh, aku sudah pernah untuk mencobanya. Mungkin Tuhan punya rencana lain.
Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan kita. Bahkan semenit dari
sekarang juga kita hanya bisa mengira-ngira saja apa yang akan terjadi.
Rasanya ada sedikit rasa plong setelah menulis ini, entah kenapa :D
Mungkin karena sudah menulis tentang dia yang ada di cerita ini. Karena,
saat ini tidak ada satu orang pun kecuali Tuhan yang mengetahui apa yang aku
rasakan pada orang yang ku sebut “dia” di dalam cerita ini. Saat ini, hanya
Tuhan saja yang tahu, tapi entah dengan beberapa detik, menit, jam, hari,
minggu, bulan, dan tahun yang akan datang..