Rabu, 07 Oktober 2015

Terima kasih ya, september :)



Sungguh, merupakan berkat yang sangat luar biasa untukku masih bisa menghirup udara di muka bumi ini. Di bulan september ini.. aku tidak bermaksud membeda-bedakan bulan lain. Di hari-hari di bulan september yang katanya september ceria ini banyak sekali cerita yang mungkin dapat dijadikan pelajaran untukku.
Aku ingin berbagi cerita yang terjadi di bulan ini. Aku sangat ingin menceritakannya secara detail, biar apa? biar tidak hanya aku yang merasakan kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan, ketakutan, kegalauan dan ke- -an yang masih banyak lagi.
Dimulai dari pertanyaan dan pembicaraan yang muncul diakhir agustus, via bbm.. seseorang menyatakan rasanya padaku. Rasa suka. Hanya rasa suka. Iya, suka. Katanya sih suka banget. Tapi, aku kurang mengerti sama alasannya yang hanya mengcopypaste dari alasan aku mengapa mempunyai rasa padanya. Aku bilang kalau aku merasa nyaman.
*flashback* [bulan desember tahun lalu, yang entah mengapa aku bilang kalau aku ada rasa padanya. Aku tau saat itu dia tidak ada rasa apapun. Tapi, kata lagu jaman dulu yang katanya “aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku” sepenggal lagu itu tampak nyata. Dengan memberikan perhatian-perhatian yang sungguh tidak di buat-buat, pada akhirnya dia ada rasa padaku.] tapi, sungguh aku sangat bangga padanya karna dia dapat melakukan “janji”nya di masa lalu. Yang katanya, janji akan buka hati untuk orang lain. ya, mungkin itu salah satu pembuktiannya. Pembuktian janji masa lalu.
Di awal september, kami hampir setiap hari bertemu. Jalan kaki bersama ke tempat tujuan. Mulai dari bisa bercanda, bercerita, cekakak-cekikik bersama sampai sama-sama hening dan hanya saling melihat pandangan mata yang seakan ingin berbicara.. dia, sungguh memberikan perhatian padaku. Memberikan senyuman lebarnya di kala bertemu. Tiba-tiba datang ke tempatku ketika sedang sepi (yang hanya ditemani oleh lembar revisian). Mengusap kepala (macam ngusap kucing). Menggendongku saat aku sesak napas sampai “ketiduran” di rumput (aku berat loh, beneran berat). Berbisik kalimat di depan banyak orang. Membuat tanda salib di dahiku (udah kaya mama aku aja) di depan banyak orang. Mengirim pesan yang isinya “ngapain ngeceng yang lain, kan udah ada kamu”. Ah dasar gombal :( Sungguh, aku terlena dengan segala perhatiannya. Setiap hari memberikan kabar dan sampai di titik hari yang tanpa kabar, itu membuat rasa kesal muncul. Seakan ada yang lain. Seakan menemukan hal yang lebih menarik di luar sana. Seakan ada yang hilang. Aku –yang menunggu kabar hingga tengah malam. Hanya bisa mengecek handphone yang tak kunjung ada kabar. Sekalinya bergetar, itu dari ind*sat. Ah, bangs*t. Aku sungguh tidak ingin berada di posisi bodoh seperti ini. Hingga di salah satu grup medsos dia muncul. Tapi tidak memberikan kabar apapun padaku. Oke sip, anggap saja aku bukan siapa-siapanya. Aku, bukannya tidak mau menyapanya duluan, tapi aku hanya ingin menunggu saja. Menunggu kepastian apakah aku ini benar-benar yang pasti untuknya atau tidak.
Kesal. Sungguh aku sedang sangat kesal saat ini. Kesal karna tidak tau apakah harus menunggu atau menghubungi terlebih dahulu. Aku hanya tidak siap untuk mendengar alasan-alasan yang tidak masuk akal darinya. Dan aku pun hanya tidak siap untuk diabaikan apabila dia tidak memberikan jawaban ketika diberikan pertanyaan. Duh. Berat kalimatnya. Semoga ngerti yah yang baca. Hm.
Akhirnya, di hampir akhir penghujung september, kami bertemu tanpa tidak disengaja. Kami satu fakultas. Ada banyak kemungkinan untuk bertemu secara tiba-tiba. Di hari itu, aku memang hanya ingin cepat menyelesaikan apa saja yang harus diselesaikan di hari itu. Jadi, jalannya memang agak rusuh. Ketika jalan, aku melihat segerombolan teman-temannya dan aku pun tau ada dia disana. Namun aku tetap jalan lurus, tanpa menoleh. Tapi, saat aku akan belok. Aku menoleh ke belakang. Ah, kenapa aku tampak mencarinya? Ah, kenapa kalimat-kalimat ini tampak semakin kaku. Hiks. Setelah selesai semuanya, aku turun tangga. Dan... kami bertemu di belokan tangga. Aku mau turun, dia akan naik. Dia bersama satu orang temannya, aku hanya sendiri. Aku tampak kaku saat itu, entah kenapa senyumku tampak tertahan disana. Sungguh, perasaanku campur aduk. Rindu, tapi sedikit dibumbui rasa kesal, rasa kecewa. Dibelokan itu, kami sama-sama berhenti berjalan. Sama-sama saling menatap. Dia mengarahkan telapak tangannya kepadaku, tanda ingin sekedar “toss”. Aku, yang di tangan memegang satu buku dan perahu kertas di tangan kanan, memindahkan ke tangan kiri dan menggapai tangan kanannya. Hanya sekali toss dan satu kalimat yang keluar dari mulutnya, “aku ga ada pulsa”. Aku, yang saat itu tanpa ekspresi hanya bisa melontarkan satu kata saja, “okey”. Tanpa basa basi busuk lagi, aku pergi. Satu orang temannya yang ada disana saat itu hanya melihat kami dengan datar. Aku semacam tidak bisa apa-apa, semacam tidak ada apa-apa, semacam tidak ada apapun yang harus dibicarakan. Emang ga ada yang harus dibicarakan kan? (bohong). Semacam tidak terjadi apapun. Semacam tidak ada hubungan apapun. Semacam tidak ada rasa yang tertinggal apapun. Dan sampai berakhirnya bulan september ini, sama sekali tidak ada kabar apapun. Terima kasih sudah membuat terbang, terbang tanpa sayap dan membuat jatuh, jatuh kehilangan kendali.
Mari kita move ke seorang yang lain. Karna di bulan september ini, aku tidak hanya bertemu dia yang diceritakan diawal tadi. Aku bertemu dengan banyak orang di masa lalu yang “dipertemukan” di bulan yang penuh cerita ini. Seseorang yang hanya menghubungiku ketika dia membutuhkan sesuatu (butuh cewek). Seseorang yang kata salah satu temanku, dia playboy tapi aku tetap mempertahankan rasa. Seseorang yang pernah ada di masa lalu. Seseorang yang pernah sms di kala aku sedang KKN di Subang. Seseorang yang tahun lalu di bulan yang sama memboncengku dan membuatku tampak menjadi seorang wanita yang sudah move on (saat itu). Seseorang yang pernah bertukar kado natal di awal januari 2015. Seseorang yang pernah membuatku menunggu hampir lima jam. Seseorang yang marganya bisa berhubungan denganku. Seseorang yang wisuda bulan ini (tanpa ada yang tau, bahkan soulmate nya pun seakan-akan tidak tau ketika ditanya). Seseorang yang berulang tahun di bulan ini. Seseorang yang.... justru hampir kuhindari di bulan ini. Mungkin aku terlalu baper karena di salah satu acara dibulan ini, dia datang bersama yang lain padahal kan tahun lalu dateng sama aku hahaha baiklah, harus ingat. roda itu berputar. Okesip. Saat itu, entahlah. Aku hanya terlalu bingung harus apa, hanya ingin menghindar. Hanya tidak tau apa yang harus dibicarakan. Hanya tidak ingin gadis yang diboncengnya di hari itu melihatku bersamanya, aku hanya menjaga perasaan si gadis itu. Gadis yang justru sedang menikmati salah satu hasil umpan-umpan yang disebarkan.
Terima kasih banyak september, sungguh terlalu banyak cerita di bulan ini. Aku sebenarnya masih ingin bercerita banyak. Tapi, biar aku saja dulu yang merasakan bulir-bulir cerita yang ada. Nanti aku ceritakan kalau aku mau. Terima kasih Tuhan untuk setiap detik yang ada. Aku tau, setiap sepermili detik apapun kejadian yang terjadi, semuanya itu atas kehendakMu. Terima kasih banyak :”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar