Selasa, 15 Maret 2016

Entahlah...


Hmmm sesungguhnya, aku hanya kurang mengerti dengan perasaan diri sendiri. Kasarnya, bagaimana bisa mengerti perasaan orang lain kalau perasaan diri sendiri saja sebenarnya kamu tidak dapat menjelaskannya?AH.

Lagi-lagi aku terjebak dalam perasaan diri sendiri. Bagaimana bisa perasaan mu tak kunjung berubah ketika orang yang akhir-akhir ini selalu ada dalam pikiranmu hanya datang padamu ketika dia butuh saja? menghubungimu ketika ada maunya, ketika ada sebabnya? Ketika (mungkin) sedang tidak ada orang lain yang ingin mendengarnya?

apakah ada perasaan yang dapat membuat seseorang menjadi sangat buta? Kenapa ketika alasan “ketika dia butuh saja” terlalu menyakitkan untuk didengar dan dirasakan? Tapi, kenapa rasa sakit itu hanya berlangsung sebentar saja dan justru menjadi salah satu hal yang membuat rasa rindu semakin menjadi (?)

sungguh, akhir-akhir ini dia mendominasi pikiranku. Apa sebabnya? apa karna sosmed dia udah aktif lagi? Atau memang karna masih banyak ‘rasa’ yang belum tersampaikan?

Oh, Tuhan.. Engkau maha tau, aku adalah seorang yang tidak mudah untuk melupakan sesuatu hal. Walau (mungkin) hal sekecil apapun. Apalagi hal-hal yang menyangkut perasaanku ini.

Ketika itu, saat hari rabu abu. Aku berniat menengok adik kelas yang dirawat di salah satu rumah sakit. Entah saat pagi hari atau hari sebelumnya, aku memang bertanya pada dia, apakah akan menengok atau tidak dan kesimpulannya dia memang akan datang ke rumah sakit tapi saat malam hari jam 9 malam karna sebelumnya dia harus mengikuti rapat salah satu komunitasnya (dia memberikan jawaban itu saat aku mengajaknya misa rabu abu bersama). Aku sudah berpikir, Ah berarti tidak akan bertemu. Ahyasudahlah, mungkin kapan-kapan lagi...

Tapi, ketika dirumah sakit.. aku mengirimkan pesan yang isinya kalau posisi aku memang sedang berada disana. Entah beberapa saat kemudian, dia muncul. Aku sungguh kaget. Aku tersenyum. Ah, kenapa dia sering muncul secara tiba-tiba.. ketika dia datang dan mendekat, ada keheningan ada senyuman ada tatapan. Hingga entah harus berkata apa, kalimat pertama yang aku ucapkan yaitu, “loh, kumisnya kemana?” dia tersenyum tanpa jawaban, akupun ikut tersenyum.

Hahaha. Dia baru cukur kumis. Kumisnya sekarang tipis. Dia hanya tersenyum (lagi-lagi). Baru duduk sebentar, udah didatengin satpam supaya yang jaga diruangan ga banyak. Dengan cepat, dia mengajakku keluar.  Tanpa berpikir apapun, aku langsung berdiri dan mengikutinya. Oh Tuhan, apakah dia mempunyai magnet yang begitu kuat?

Dia bercerita, kalau rapat dengan komunitasnya mendadak tidak jadi. Entah itu benar atau tidak. Apa sengaja tidak ikut rapat atau ingin bertemu denganku ketika mendapat pesan dariku? Hanya dia saja yang tau~

Di hari itu, dia memang sudah janji dengan yang lain akan jaga malam adik kelas kami. Namun dengan alasan dia mempunyai banyak tugas kuliah, dia mengingkari janjinya sendiri, disanapun ada adik kelas yang lain yang bisa menjaga tapi tidak membawa baju ganti, dengan cepat diapun menawarkan untuk mengantarnya mengambil baju ganti supaya dia dapat jaga malam. Dan dia bilang padaku, “kamu tunggu disini, jagain sebentar. Nanti dianter pulang” dan disitu udah sekitar jam 9 malam. Aku yang hanya berpikir sebentar, langsung mengiyakan kata-katanya. Lagi-lagi, dia sebenarnya punya magnet jenis apa sih?

Aku menunggu, dan menunggu. Iya, menunggu dia datang lagi.

Setelah sejam, aku mengirim pesan dan dia bilang masih dijalan. Entah dijalan yang mana..

Mungkin sudah sekitar jam setengah sebelas malam. Ketika adik kelas yang akan menjaga malam sudah datang, akupun ingin segera bergegas karna sudah cukup malam, akupun pergi ke ruang tunggu karna dia menunggu disana. Dan ada banyak adik kelas yang lain juga. Dengan wajah lelah, aku mendatanginya. Aku duduk sebentar untuk basa-basi, dia lalu mengajak pulang. Ya, memang aku ingin cepat pulang saat itu, semacam ada rasa sedikit lelah. Aku hanya tidak habis pikir dengan diri sendiri, kenapa seakan-akan aku mengikuti saja apa yang dia katakan.

Akhirnya dia mengantarkan aku pulang. Terlalu banyak cerita didalam perjalanan.

Sekitar jam sebelas malam. Dia berniat untuk mencari makan dulu dan dalam perjalanan sambil mencari atm. Berhenti, dan dia pergi. aku menunggu dimotor. Ketika dia kembali menuju padaku, dia terlihat senyum-senyum. Aku langsung bertanya dan dengan kampretnya dia menjawab ”Kamu lucu pake helm” HAHAHA. Astaga. Ada aja ya yang bikin senyum-senyum sendiri lagi. Senyum-senyum dibalik punggung rider yang satu ini.

Kami pun bertemu dengan tempat makan dipinggir jalan yang masih buka. Dia memesan makan, aku tidak. “Aku mah hanya nganterin dan mau ngeliatin dia makan aja, Mas” jawab aku pada Mas-mas yang nawarin makan. Ditempat itu, dia banyak cerita. Cerita tentang dirinya, keluarganya, wanita-wanita yang dekat dengannya, mantan-mantannya, kecengan-kecengannya. Sungguh dia menceritakannya dengan detail. Hati kecilku berkutik, tidakkah kamu mengerti isi hatiku? Mendengar semua tentang wanita-wanita itu? Apakah aku terlihat sangat berpotensi menjadi pendengar yang baik, sampai tak terlihat kekecewaan? Atau aku memang seorang yang terlalu pandai menyembunyikan segalanya? Atau itu merupakan suatu kesengajaan agar aku tidak terlalu mengharapkannya? AH, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang memungkinkan atau tidak mungkin sekalipun. Lagi-lagi hanya dia yang tau dan mengerti dengan rasanya sendiri.

Aku tidak bermaksud ingin menceritakan kejelekannya, sungguh tidak ada maksud. Aku mengerti, ketika kamu tidak mempunyai hubungan atau status dengan seseorang, kamu bebas dekat dengan siapapun. Tapi tidak berarti semuanya diberikan porsi yang sama, perhatian yang sama di waktu yang sama pula. Wanita mana yang ingin dijadikan percobaan? Perumpamaan? Persinggahan sementara? Apakah kita seperti terminal? Bandara? Ruang Tunggu? Sebegitunyakah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar