Hmmm sesungguhnya, aku hanya kurang mengerti dengan perasaan
diri sendiri. Kasarnya, bagaimana bisa mengerti perasaan orang lain kalau
perasaan diri sendiri saja sebenarnya kamu tidak dapat menjelaskannya?AH.
Lagi-lagi aku terjebak dalam perasaan diri sendiri.
Bagaimana bisa perasaan mu tak kunjung berubah ketika orang yang akhir-akhir
ini selalu ada dalam pikiranmu hanya datang padamu ketika dia butuh saja?
menghubungimu ketika ada maunya, ketika ada sebabnya? Ketika (mungkin) sedang
tidak ada orang lain yang ingin mendengarnya?
apakah ada perasaan yang dapat membuat seseorang menjadi
sangat buta? Kenapa ketika alasan “ketika dia butuh saja” terlalu menyakitkan
untuk didengar dan dirasakan? Tapi, kenapa rasa sakit itu hanya berlangsung
sebentar saja dan justru menjadi salah satu hal yang membuat rasa rindu semakin
menjadi (?)
sungguh, akhir-akhir ini dia mendominasi pikiranku. Apa
sebabnya? apa karna sosmed dia udah
aktif lagi? Atau memang karna masih banyak ‘rasa’ yang belum tersampaikan?
Oh, Tuhan.. Engkau maha tau, aku adalah seorang yang tidak
mudah untuk melupakan sesuatu hal. Walau (mungkin) hal sekecil apapun. Apalagi
hal-hal yang menyangkut perasaanku ini.
Ketika itu, saat hari rabu abu. Aku berniat menengok adik
kelas yang dirawat di salah satu rumah sakit. Entah saat pagi hari atau hari
sebelumnya, aku memang bertanya pada dia, apakah akan menengok atau tidak dan
kesimpulannya dia memang akan datang ke rumah sakit tapi saat malam hari jam 9
malam karna sebelumnya dia harus mengikuti rapat salah satu komunitasnya (dia
memberikan jawaban itu saat aku mengajaknya misa rabu abu bersama). Aku sudah
berpikir, Ah berarti tidak akan bertemu. Ahyasudahlah, mungkin kapan-kapan
lagi...
Tapi, ketika dirumah sakit.. aku mengirimkan pesan yang
isinya kalau posisi aku memang sedang berada disana. Entah beberapa saat
kemudian, dia muncul. Aku sungguh kaget. Aku tersenyum. Ah, kenapa dia sering
muncul secara tiba-tiba.. ketika dia datang dan mendekat, ada keheningan ada
senyuman ada tatapan. Hingga entah harus berkata apa, kalimat pertama yang aku
ucapkan yaitu, “loh, kumisnya kemana?” dia tersenyum tanpa jawaban, akupun ikut
tersenyum.
Hahaha. Dia baru cukur kumis. Kumisnya sekarang tipis. Dia
hanya tersenyum (lagi-lagi). Baru duduk sebentar, udah didatengin satpam supaya
yang jaga diruangan ga banyak. Dengan cepat, dia mengajakku keluar. Tanpa berpikir apapun, aku langsung berdiri
dan mengikutinya. Oh Tuhan, apakah dia mempunyai magnet yang begitu kuat?
Dia bercerita, kalau rapat dengan komunitasnya mendadak tidak
jadi. Entah itu benar atau tidak. Apa sengaja tidak ikut rapat atau ingin
bertemu denganku ketika mendapat pesan dariku? Hanya dia saja yang tau~
Di hari itu, dia memang sudah janji dengan yang lain akan jaga
malam adik kelas kami. Namun dengan alasan dia mempunyai banyak tugas kuliah,
dia mengingkari janjinya sendiri, disanapun ada adik kelas yang lain yang bisa
menjaga tapi tidak membawa baju ganti, dengan cepat diapun menawarkan untuk
mengantarnya mengambil baju ganti supaya dia dapat jaga malam. Dan dia bilang
padaku, “kamu tunggu disini, jagain sebentar. Nanti dianter pulang” dan disitu
udah sekitar jam 9 malam. Aku yang hanya berpikir sebentar, langsung mengiyakan
kata-katanya. Lagi-lagi, dia sebenarnya punya magnet jenis apa sih?
Aku menunggu, dan menunggu. Iya, menunggu dia datang lagi.
Setelah sejam, aku mengirim pesan dan dia bilang masih
dijalan. Entah dijalan yang mana..
Mungkin sudah sekitar jam setengah sebelas malam. Ketika
adik kelas yang akan menjaga malam sudah datang, akupun ingin segera bergegas
karna sudah cukup malam, akupun pergi ke ruang tunggu karna dia menunggu
disana. Dan ada banyak adik kelas yang lain juga. Dengan wajah lelah, aku
mendatanginya. Aku duduk sebentar untuk basa-basi, dia lalu mengajak pulang.
Ya, memang aku ingin cepat pulang saat itu, semacam ada rasa sedikit lelah. Aku
hanya tidak habis pikir dengan diri sendiri, kenapa seakan-akan aku mengikuti
saja apa yang dia katakan.
Akhirnya dia mengantarkan aku pulang. Terlalu banyak cerita
didalam perjalanan.
Sekitar jam sebelas malam. Dia berniat untuk mencari makan
dulu dan dalam perjalanan sambil mencari atm. Berhenti, dan dia pergi. aku
menunggu dimotor. Ketika dia kembali menuju padaku, dia terlihat senyum-senyum.
Aku langsung bertanya dan dengan kampretnya
dia menjawab ”Kamu lucu pake helm” HAHAHA. Astaga. Ada aja ya yang bikin
senyum-senyum sendiri lagi. Senyum-senyum dibalik punggung rider yang satu ini.
Kami pun bertemu dengan tempat makan dipinggir jalan yang
masih buka. Dia memesan makan, aku tidak. “Aku mah hanya nganterin dan
mau ngeliatin dia makan aja, Mas” jawab aku pada Mas-mas yang
nawarin makan. Ditempat itu, dia banyak cerita. Cerita tentang dirinya,
keluarganya, wanita-wanita yang dekat dengannya, mantan-mantannya,
kecengan-kecengannya. Sungguh dia menceritakannya dengan detail. Hati kecilku
berkutik, tidakkah kamu mengerti isi hatiku? Mendengar semua tentang
wanita-wanita itu? Apakah aku terlihat sangat berpotensi menjadi pendengar yang
baik, sampai tak terlihat kekecewaan? Atau aku memang seorang yang terlalu
pandai menyembunyikan segalanya? Atau itu merupakan suatu kesengajaan agar aku
tidak terlalu mengharapkannya? AH, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang memungkinkan
atau tidak mungkin sekalipun. Lagi-lagi hanya dia yang tau dan mengerti dengan rasanya
sendiri.
Aku tidak bermaksud ingin menceritakan kejelekannya, sungguh
tidak ada maksud. Aku mengerti, ketika kamu tidak mempunyai hubungan atau
status dengan seseorang, kamu bebas dekat dengan siapapun. Tapi tidak berarti
semuanya diberikan porsi yang sama, perhatian yang sama di waktu yang sama
pula. Wanita mana yang ingin dijadikan percobaan? Perumpamaan? Persinggahan
sementara? Apakah kita seperti terminal? Bandara? Ruang Tunggu? Sebegitunyakah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar