Keluarga..
Bapak, mama, kakak, abang, adik.. mereka hanyalah
sebagian dari keluarga kecil. Tapi, mereka yang selalu ada di tiap kali kita
kembali ke rumah sepulang kita melakukan berbagai aktivitas di luar rumah.
Mereka.. yang di setiap kelebihan dan kekurangannya
yang membuat warna warni kehidupan itu sendiri. Di suatu kali ada percekcokan
pendapat, mungkin saat itu juga bisa mendadak saling diam. Tapi, apa ? yang
namanya keluarga, yang satu atap setiap saat, yang bisa ditemui setiap harinya
juga. Ujung-ujungnya pasti akrab lagi, cerita-cerita lagi, bercanda sama-sama
lagi. iya, itu keluarga. Sederhana.
Bapak dan mama, yang keduanya mempunyai kakak, abang,
juga adik. Ada di beberapa adat di Indonesia ini dimana ‘perkawinan sedarah’
atau istilahnya itu incest diperbolehkan
di dalamnya. Seperti apa yang dikatakan orang banyak, apabila ada seorang anak
yang menikah dengan sepupunya sendiri, akan mempunyai keturunan yang tidak
normal. Apa mungkin ? apakah sudah ada buktinya ?
Tapi, ketika terlanjur sayang kepada sang sepupu, ketika
rasa sayang sudah berkuasa dengan sendirinya, apakah harus merelakan rasa
sayang itu sendiri ? memang. Memang itu yang sudah seharusnya dilakukan. Bahkan
seharusnya sejak awal merasakan rasa sayang itu. sejak mengenalnya dan mengetahuinya
bahwa dia hanyalah saudara yang berbeda ayah dan ibu tapi adalah termasuk dalam
keluarga ayah. Rumit ya ? iya memang.
Semakin bertambahnya usia, seiring meningkatnya
keremajaan, selangkah lebih maju pada kedewasaan. Dimana kedewasaan ini banyak
dicari-cari oleh sebagian besar remaja yang ingin disebut dan terlihat lebih
dewasa. Dewasa tidak diukur oleh fisik seseorang, juga tidak diukur oleh usia
seseorang. Tapi kedewasaan itu akan muncul dengan sendirinya dimana seseorang
dihadapkan dengan berbagai situasi positif maupun negatif yang ada di depannya
dan dapat mengatasi hal negatif dengan hal yang positif.
Merelakan dia yang sudah menyayangi orang lain apakah
bisa disebut sudah dewasa ? iya iya, bisa jadi bisa jadi. Dia, hanya seorang
sepupu. Anak lelaki dari kakaknya bapak. Baik. Terlalu baik. Terlihat terlalu
sempurna. Ketika dia terlihat sudah mempunyai seseorang yang mungkin akan
menjadi belahan jiwanya, bisa apa ? mendoakan agar hubungannya tidak baik dan
menjelek-jelekkan kebaikannya? Yang dikatakan dewasa tidak begitu kan? Jadi,
seperti apa yang dikatakan dewasa ? mendoakan yang terbaik untuknya, merelakan,
dan tersenyum saja apabila melihat dia bahagia. Okesip. Melakukan itu semua
tidak akan sulit, kalau memang dari awal sudah memasrahkan diri padaNya. Jodoh
kan di tangan Tuhan. Kalimat itu yang harus selalu diingat.
Kembali lagi ke bahasan tentang incest, kalau sejak dulu mengerti tentang apa dan bagaimana incest, yakin, yakin seyakin-yakinnya
tidak akan pernah ada perasaan yang sebegininya. Usia yang sudah segini,
hubungan antara saudara itu sudah semakin semakin “dijaga”. Dijaga
kebersamaannya, kekompakkannya sebagai saudara, rasa saling pengertian diantara
semuanya. Iya, pengertian. Pengertian sebagai saudara. Perhatian sebagai
hubungan saudara yang seharusnya sudah dianggap sebagai “abang” sendiri.
Walaupun menganggap hal yang sesepele itu sedikit sulit. Saat ini. tapi harus
bisa. Nanti pasti tidak akan sebegininya., Karena bagaimanapun yang namanya
saudara akan terus berhubungan atau berinteraksi dimanapun, kapanpun, kondisi
apapun, sampai kapanpun.
Belajar ikhlas itu tidak sulit. Sungguh tidak sulit
apabila “ikhlas”nya itu benar-benar ikhlas dari lubuk hati yang paling
terdalam.
Kenapa menulis tentang ini? ini hanya efek mata
kuliah seminar agama, yang mengharuskan semua mahasiswanya mengambil dan
mencari tema tersendiri untuk dibahas dan dipresentasikan untuk nilai UTS.
Entah kenapa termotivasi untuk membahas hal ini. mungkin,,, mungkinn.. karna
bahasan ini cukup menarik? Haha entahlah.
Setelah mengetahui dan mempelajarinya lebih dalam,
sungguh rasa ikhlas itu menjadi semakin lebih besar. Terima kasih, ilmu
pengetahuan :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar