Minggu, 23 Februari 2014

karena si incest..



Keluarga..

Bapak, mama, kakak, abang, adik.. mereka hanyalah sebagian dari keluarga kecil. Tapi, mereka yang selalu ada di tiap kali kita kembali ke rumah sepulang kita melakukan berbagai aktivitas di luar rumah.

Mereka.. yang di setiap kelebihan dan kekurangannya yang membuat warna warni kehidupan itu sendiri. Di suatu kali ada percekcokan pendapat, mungkin saat itu juga bisa mendadak saling diam. Tapi, apa ? yang namanya keluarga, yang satu atap setiap saat, yang bisa ditemui setiap harinya juga. Ujung-ujungnya pasti akrab lagi, cerita-cerita lagi, bercanda sama-sama lagi. iya, itu keluarga. Sederhana.

Bapak dan mama, yang keduanya mempunyai kakak, abang, juga adik. Ada di beberapa adat di Indonesia ini dimana ‘perkawinan sedarah’ atau istilahnya itu incest diperbolehkan di dalamnya. Seperti apa yang dikatakan orang banyak, apabila ada seorang anak yang menikah dengan sepupunya sendiri, akan mempunyai keturunan yang tidak normal. Apa mungkin ? apakah sudah ada buktinya ?

Tapi, ketika terlanjur sayang kepada sang sepupu, ketika rasa sayang sudah berkuasa dengan sendirinya, apakah harus merelakan rasa sayang itu sendiri ? memang. Memang itu yang sudah seharusnya dilakukan. Bahkan seharusnya sejak awal merasakan rasa sayang itu. sejak mengenalnya dan mengetahuinya bahwa dia hanyalah saudara yang berbeda ayah dan ibu tapi adalah termasuk dalam keluarga ayah. Rumit ya ? iya memang.

Semakin bertambahnya usia, seiring meningkatnya keremajaan, selangkah lebih maju pada kedewasaan. Dimana kedewasaan ini banyak dicari-cari oleh sebagian besar remaja yang ingin disebut dan terlihat lebih dewasa. Dewasa tidak diukur oleh fisik seseorang, juga tidak diukur oleh usia seseorang. Tapi kedewasaan itu akan muncul dengan sendirinya dimana seseorang dihadapkan dengan berbagai situasi positif maupun negatif yang ada di depannya dan dapat mengatasi hal negatif dengan hal yang positif.

Merelakan dia yang sudah menyayangi orang lain apakah bisa disebut sudah dewasa ? iya iya, bisa jadi bisa jadi. Dia, hanya seorang sepupu. Anak lelaki dari kakaknya bapak. Baik. Terlalu baik. Terlihat terlalu sempurna. Ketika dia terlihat sudah mempunyai seseorang yang mungkin akan menjadi belahan jiwanya, bisa apa ? mendoakan agar hubungannya tidak baik dan menjelek-jelekkan kebaikannya? Yang dikatakan dewasa tidak begitu kan? Jadi, seperti apa yang dikatakan dewasa ? mendoakan yang terbaik untuknya, merelakan, dan tersenyum saja apabila melihat dia bahagia. Okesip. Melakukan itu semua tidak akan sulit, kalau memang dari awal sudah memasrahkan diri padaNya. Jodoh kan di tangan Tuhan. Kalimat itu yang harus selalu diingat.

Kembali lagi ke bahasan tentang incest, kalau sejak dulu mengerti tentang apa dan bagaimana incest, yakin, yakin seyakin-yakinnya tidak akan pernah ada perasaan yang sebegininya. Usia yang sudah segini, hubungan antara saudara itu sudah semakin semakin “dijaga”. Dijaga kebersamaannya, kekompakkannya sebagai saudara, rasa saling pengertian diantara semuanya. Iya, pengertian. Pengertian sebagai saudara. Perhatian sebagai hubungan saudara yang seharusnya sudah dianggap sebagai “abang” sendiri. Walaupun menganggap hal yang sesepele itu sedikit sulit. Saat ini. tapi harus bisa. Nanti pasti tidak akan sebegininya., Karena bagaimanapun yang namanya saudara akan terus berhubungan atau berinteraksi dimanapun, kapanpun, kondisi apapun, sampai kapanpun.

Belajar ikhlas itu tidak sulit. Sungguh tidak sulit apabila “ikhlas”nya itu benar-benar ikhlas dari lubuk hati yang paling terdalam.

Kenapa menulis tentang ini? ini hanya efek mata kuliah seminar agama, yang mengharuskan semua mahasiswanya mengambil dan mencari tema tersendiri untuk dibahas dan dipresentasikan untuk nilai UTS. Entah kenapa termotivasi untuk membahas hal ini. mungkin,,, mungkinn.. karna bahasan ini cukup menarik? Haha entahlah.

Setelah mengetahui dan mempelajarinya lebih dalam, sungguh rasa ikhlas itu menjadi semakin lebih besar. Terima kasih, ilmu pengetahuan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar