Minggu, 23 Februari 2014

dia (2)



Ternyata rasa sayang itu terkadang harus diungkapkan! Hahaha…
Dia.. iya, ini masih saja menceritakan tentang dia.. dia, yang masih saja ku sayangi. Entah kenapa rasa sayang itu ada dan muncul dengan sendirinya.
Dia, yang saat di akhir bulan desember menanyakan apa yang memang seharusnya dia tanyakan. Aku jadi lebih tau, kalau pertanyaan-pertanyaan itu mungkin memang yang selalu mengganjal dipikirannya. Hanya saja, terlalu takut untuk memulainya dan menanyakannya. Mungkin. Tapi kenyataannya memang seperti itu.
Memang di jaman yang sudah cukup sangat canggih ini, kita bisa tau apa saja yang sedang dilakukan orang-orang di luar sana, dengan hanya membaca “update-an status” dari media sosialnya. Sebut saja salah satunya adalah whatsapp, media sosial pengganti sms-an yang mudah dan tidak banyak mengeluarkan banyak biaya. Mungkin ini yang membuat hasrat diri untuk terus melihatnya, menyapanya.
Terlalu sering menanyakan hal-hal yang penting, yang sedikit penting, yang agak penting, sampai hal yang tidak penting pun pernah dibahas dengannya dan dia menganggap hanya lima persen saja dalam pembicaraan kami yang benar-benar termasuk ke dalam hal yang penting dan yang lainnya hanya membahas hal-hal yang tidak penting. Aku sendiri kurang paham hal-hal yang penting dan yang tidak penting itu yang seperti apa yang ada di dalam pikirannya.
Waktu itu dia pernah bilang kalau aku punya banyak salah padanya. Tapi, aku sungguh benar-benar tidak tahu kesalahannya. Entah kenapa. Beberapa kali menerka-nerka ke kejadian-kejadian ke belakang, sungguh aku tidak menemukan kesalahan-kesalahan yang dia sebut “kesalahan kamu banyak” itu. Saat itu yang aku temukan hanya satu hal, yaitu dimana aku memanggil namanya seperti orang sunda, contohnya apabila huruf F malah di baca dengan menggunakan huruf P. aku hanya berpikir kalau kesalahanku ada disitu. Tapi, ketika diungkit lagi dan diungkit-ungkit lagi, ternyata bukan itu. benar-benar bukan itu.. semua ketidakjelasan itu hanya membuatku bingung dan hanya semakin ingin menyapa dan bertanya padanya apa sebenarnya yang salah, apa yang sebenarnya yang mengganjal, apa yang tidak sinkron dengan pikirannya... intinya, hanya ingin tau. Hanya ingin tau apa yang menjadi kesalahan aku yang sebenarnya. Siapa tahu pernah melakukan sesuatu yang membuatnya sakit atau apalah.. tapi, aku ga pernah menemukan jawabannya.
Tibalah saat hari natal, aku duluan yang mengucapkan selamat natal padanya, dan dia mengucapkannya juga. Mengucapkan hanya dengan memforward dari ucapan natal yang mungkin masuk ke nomer handphonenya. Karna masih penasaran dengan apa yang dia bilang tentang kesalahanku, aku hanya bisa memperpanjang balasan ucapannya dengan mengungkit hal “kesalahan” itu lagi. saat aku tanya pertama kalinya, dia bilang kalau dikasih tau bakal jadi masalah.
Sungguh alasan yang sangat sulit untuk dimengerti. Kalaupun iya akan menjadi masalah, bukankah semua masalah ada solusinya ?
Tibalah detik-detik semua pertanyaan akan terjawab sudah.. walaupun masih saja itu merupakan sesuatu yang sungguh tidak masuk akal, menurutku. Entah menurutnya.
Dia bilang, kalau aku terlalu baik. Dia pun tak lupa mengucapkan terima kasih karna sudah perhatian padanya. Sungguh, aku sangat tidak mengerti dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal itu. dia bilang lagi kalau aku terlalu baik untuknya dan melakukan hal “baik” itu menjadi suatu kesalahan yang beralasan untuknya. Iya untuknya saja, bukan untukku. Untuk sekian kalinya dia mengucapkan kalimat yang sama lagi, “salah kamu, terlalu baik sama aku.”
Tiba lagi saat-saat yang sebenarnya hanya bisa membuat speechless.. dan sepertinya nafas terasa mendadak berhenti saat itu. “kamu suka sama aku?” (sambil mengirim screenshot yang dia jadikan fakta untuk pertanyaan yang sangat mencekam itu..). aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, ha. Kalau dia sendiri udah tau jawabannya, kenapa harus bertanya lagi ? hanya untuk memastikan, iya.. sepertinya begitu.. dan hanya ingin mencari tahu kembali apa sebenarnya perasaan-perasaan yang sedang ada disana. Memangnya salah kalau kangen ? dia jawab, kalau kangen sama dia itu salah. Entah ada dibagian mana yang salah. Rasa kangen itu kan manusiawi. Iya kan?? Iyaaaaa. Dia hanya terlalu heran kenapa ada rasa kangen yang ada. Bodoh. Kurang peka. Kangen, karna udah lama ga “ketemu” dan “whatsapp” an. Udah itu aja (bohong). Lagi-lagi dia menanyakan alasan yang menurutnya masuk akal. Entah, entah apa yang ada dipikiranku saat itu. tapi, jari-jari tangan ini menghasilkan kalimat yang mungkin akan menjawab semua pertanyaannya..
“aku ga suka, tapi aku sayang. puas ? dan ga ada alasan kenapa rasa sayang itu ada.”
Dengan menjawab satu kalimat itu, langsung timbul beberapa pertanyaan yang semakin mencekam..
“kenapa bisa?”
“aku ngelakuin apa sampe kamu kaya gini?”
“ga nyesel kamu?”
“sayang sama bajingan kaya gini?”
“kalo rasa sayang itu ga terbalas gimana?”
“kamu udah tau kan?”
Tanpa pikir panjang, aku hanya bisa jawab.. aku ga pernah nyesel kalau sayang sama orang apapun kondisinya. Ga masalah ga terbalas, ga semua hal ada timbal baliknya.”
“makasih yah, udah sayang sama aku.”
Entah kenapa ucapan-ucapan makasih yang terlontar darinya sama sekali sulit untuk dijawab, saat itu. untuk mengucapkan “sama-sama” entah kenapa menjadi sangat sulit..
Lega. Sangat-sangat lega ketika sudah bilang sayang kepada orang yang kita sayangi. Walaupun sebenarnya masih banyak sekali yang ingin dicuap-cuapkan saat itu.
Dulu, pernah membahas tentang kepekaan dengannya. Aku selalu menganggap kalau dia hanyalah seseorang yang tidak mempunyai rasa peka. Tidak mengerti dengan yang disebut peka. Tidak peka sama sekali. Tapi, saat itu dia bilang “aku bukan ga peka, pura-pura ga peka.” Kenapa dan apa untungnya apa? Alasannya, Karena gabisa ngasih rasa sayang ke orang lain.”
Okesip. Itu semua udah memperlihatkan kalau dia hanyalah seorang yang belum bisa move on dari masa lalunya. Lalu? Mau seperti itu terus? Mau diam saja di posisi yang seperti itu? mau menyakiti diri sendiri berlarut-larut seperti itu? hanya dia yang bisa menjawab semua kalimat yang dihiasi dengan banyak tanda tanya itu..
“sakit ga?” tiba-tiba muncul pertanyaan yang membuat berpikir kembali untuk menjawabnya. Akhirnya aku hanya bisa jawab “ngga, karna udah banyak belajar dari orang lain juga kalau ada di posisi ini.” ditambah dengan emotion nyengir. ah. lega. lega-selega-lega-nya.
Dia bilang, jangan sampai gagal move on. Ini pengalaman buat kamu. Jangan sampe kaya aku.
Ha. Kata-katanya hanya membuatku sangat-sangat ingin ngejitak kepalanya :’)
Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa move on, tetapi nyuruh orang lain untuk bisa move on? Sungguh tidak masuk di akal……. Tapi, dia lagi-lagi bilang, ya udah jangan di contoh. (jangan dicontoh gabisa move on nya).
Aku hanya bisa bilang padanya “harus inget, kalau orang yang kita sayang bisa lebih bahagia sama orang lain ya kenapa ngga.”
Lagi-lagi dia mengucapkan “makasih”
Dan sekali-kalinya aku jawab, sama-sama, belajar buka hati buat orang lain ya. Namanya juga belajar ya bertahap, pasti bisa.”
“belum nemu orang yang pas.” | seiring berjalannya waktu *emot otot yang ada di whatsapp*
Akhirnya,, ada lebaran di tanggal duapuluh enam desember. Kenapa ? karna saat itu kami hanya bisa saling minta maaf, saling bilang makasih. Entah sudah berapa kali  dia minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Begitupun dengan aku.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, yang salah itu hanya perasaanku saja.

karena si incest..



Keluarga..

Bapak, mama, kakak, abang, adik.. mereka hanyalah sebagian dari keluarga kecil. Tapi, mereka yang selalu ada di tiap kali kita kembali ke rumah sepulang kita melakukan berbagai aktivitas di luar rumah.

Mereka.. yang di setiap kelebihan dan kekurangannya yang membuat warna warni kehidupan itu sendiri. Di suatu kali ada percekcokan pendapat, mungkin saat itu juga bisa mendadak saling diam. Tapi, apa ? yang namanya keluarga, yang satu atap setiap saat, yang bisa ditemui setiap harinya juga. Ujung-ujungnya pasti akrab lagi, cerita-cerita lagi, bercanda sama-sama lagi. iya, itu keluarga. Sederhana.

Bapak dan mama, yang keduanya mempunyai kakak, abang, juga adik. Ada di beberapa adat di Indonesia ini dimana ‘perkawinan sedarah’ atau istilahnya itu incest diperbolehkan di dalamnya. Seperti apa yang dikatakan orang banyak, apabila ada seorang anak yang menikah dengan sepupunya sendiri, akan mempunyai keturunan yang tidak normal. Apa mungkin ? apakah sudah ada buktinya ?

Tapi, ketika terlanjur sayang kepada sang sepupu, ketika rasa sayang sudah berkuasa dengan sendirinya, apakah harus merelakan rasa sayang itu sendiri ? memang. Memang itu yang sudah seharusnya dilakukan. Bahkan seharusnya sejak awal merasakan rasa sayang itu. sejak mengenalnya dan mengetahuinya bahwa dia hanyalah saudara yang berbeda ayah dan ibu tapi adalah termasuk dalam keluarga ayah. Rumit ya ? iya memang.

Semakin bertambahnya usia, seiring meningkatnya keremajaan, selangkah lebih maju pada kedewasaan. Dimana kedewasaan ini banyak dicari-cari oleh sebagian besar remaja yang ingin disebut dan terlihat lebih dewasa. Dewasa tidak diukur oleh fisik seseorang, juga tidak diukur oleh usia seseorang. Tapi kedewasaan itu akan muncul dengan sendirinya dimana seseorang dihadapkan dengan berbagai situasi positif maupun negatif yang ada di depannya dan dapat mengatasi hal negatif dengan hal yang positif.

Merelakan dia yang sudah menyayangi orang lain apakah bisa disebut sudah dewasa ? iya iya, bisa jadi bisa jadi. Dia, hanya seorang sepupu. Anak lelaki dari kakaknya bapak. Baik. Terlalu baik. Terlihat terlalu sempurna. Ketika dia terlihat sudah mempunyai seseorang yang mungkin akan menjadi belahan jiwanya, bisa apa ? mendoakan agar hubungannya tidak baik dan menjelek-jelekkan kebaikannya? Yang dikatakan dewasa tidak begitu kan? Jadi, seperti apa yang dikatakan dewasa ? mendoakan yang terbaik untuknya, merelakan, dan tersenyum saja apabila melihat dia bahagia. Okesip. Melakukan itu semua tidak akan sulit, kalau memang dari awal sudah memasrahkan diri padaNya. Jodoh kan di tangan Tuhan. Kalimat itu yang harus selalu diingat.

Kembali lagi ke bahasan tentang incest, kalau sejak dulu mengerti tentang apa dan bagaimana incest, yakin, yakin seyakin-yakinnya tidak akan pernah ada perasaan yang sebegininya. Usia yang sudah segini, hubungan antara saudara itu sudah semakin semakin “dijaga”. Dijaga kebersamaannya, kekompakkannya sebagai saudara, rasa saling pengertian diantara semuanya. Iya, pengertian. Pengertian sebagai saudara. Perhatian sebagai hubungan saudara yang seharusnya sudah dianggap sebagai “abang” sendiri. Walaupun menganggap hal yang sesepele itu sedikit sulit. Saat ini. tapi harus bisa. Nanti pasti tidak akan sebegininya., Karena bagaimanapun yang namanya saudara akan terus berhubungan atau berinteraksi dimanapun, kapanpun, kondisi apapun, sampai kapanpun.

Belajar ikhlas itu tidak sulit. Sungguh tidak sulit apabila “ikhlas”nya itu benar-benar ikhlas dari lubuk hati yang paling terdalam.

Kenapa menulis tentang ini? ini hanya efek mata kuliah seminar agama, yang mengharuskan semua mahasiswanya mengambil dan mencari tema tersendiri untuk dibahas dan dipresentasikan untuk nilai UTS. Entah kenapa termotivasi untuk membahas hal ini. mungkin,,, mungkinn.. karna bahasan ini cukup menarik? Haha entahlah.

Setelah mengetahui dan mempelajarinya lebih dalam, sungguh rasa ikhlas itu menjadi semakin lebih besar. Terima kasih, ilmu pengetahuan :)