Ternyata rasa sayang itu terkadang harus diungkapkan!
Hahaha…
Dia.. iya, ini masih saja menceritakan tentang dia..
dia, yang masih saja ku sayangi. Entah kenapa rasa sayang itu ada dan muncul
dengan sendirinya.
Dia, yang saat di akhir bulan desember menanyakan apa
yang memang seharusnya dia tanyakan. Aku jadi lebih tau, kalau
pertanyaan-pertanyaan itu mungkin memang yang selalu mengganjal dipikirannya.
Hanya saja, terlalu takut untuk memulainya dan menanyakannya. Mungkin. Tapi
kenyataannya memang seperti itu.
Memang di jaman yang sudah cukup sangat canggih ini,
kita bisa tau apa saja yang sedang dilakukan orang-orang di luar sana, dengan
hanya membaca “update-an status” dari media sosialnya. Sebut saja salah satunya
adalah whatsapp, media sosial pengganti
sms-an yang mudah dan tidak banyak mengeluarkan banyak biaya. Mungkin ini yang
membuat hasrat diri untuk terus melihatnya, menyapanya.
Terlalu sering menanyakan hal-hal yang penting, yang
sedikit penting, yang agak penting, sampai hal yang tidak penting pun pernah
dibahas dengannya dan dia menganggap hanya lima persen saja dalam pembicaraan
kami yang benar-benar termasuk ke dalam hal yang penting dan yang lainnya hanya
membahas hal-hal yang tidak penting. Aku sendiri kurang paham hal-hal yang
penting dan yang tidak penting itu yang seperti apa yang ada di dalam
pikirannya.
Waktu itu dia pernah bilang kalau aku punya banyak
salah padanya. Tapi, aku sungguh benar-benar tidak tahu kesalahannya. Entah
kenapa. Beberapa kali menerka-nerka ke kejadian-kejadian ke belakang, sungguh
aku tidak menemukan kesalahan-kesalahan yang dia sebut “kesalahan kamu banyak”
itu. Saat itu yang aku temukan hanya satu hal, yaitu dimana aku memanggil
namanya seperti orang sunda, contohnya apabila huruf F malah di baca dengan
menggunakan huruf P. aku hanya berpikir kalau kesalahanku ada disitu. Tapi,
ketika diungkit lagi dan diungkit-ungkit lagi, ternyata bukan itu. benar-benar
bukan itu.. semua ketidakjelasan itu hanya membuatku bingung dan hanya semakin
ingin menyapa dan bertanya padanya apa sebenarnya yang salah, apa yang
sebenarnya yang mengganjal, apa yang tidak sinkron dengan pikirannya...
intinya, hanya ingin tau. Hanya ingin tau apa yang menjadi kesalahan aku yang
sebenarnya. Siapa tahu pernah melakukan sesuatu yang membuatnya sakit atau
apalah.. tapi, aku ga pernah menemukan jawabannya.
Tibalah saat hari natal, aku duluan yang mengucapkan
selamat natal padanya, dan dia mengucapkannya juga. Mengucapkan hanya dengan
memforward dari ucapan natal yang
mungkin masuk ke nomer handphonenya.
Karna masih penasaran dengan apa yang dia bilang tentang kesalahanku, aku hanya
bisa memperpanjang balasan ucapannya dengan mengungkit hal “kesalahan” itu
lagi. saat aku tanya pertama kalinya, dia bilang kalau dikasih tau bakal jadi
masalah.
Sungguh alasan yang sangat sulit untuk dimengerti.
Kalaupun iya akan menjadi masalah, bukankah semua masalah ada solusinya ?
Tibalah detik-detik semua pertanyaan akan terjawab
sudah.. walaupun masih saja itu merupakan sesuatu yang sungguh tidak masuk
akal, menurutku. Entah menurutnya.
Dia bilang, kalau aku terlalu baik. Dia pun tak lupa
mengucapkan terima kasih karna sudah perhatian padanya. Sungguh, aku sangat
tidak mengerti dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal itu. dia bilang
lagi kalau aku terlalu baik untuknya dan melakukan hal “baik” itu menjadi suatu
kesalahan yang beralasan untuknya. Iya untuknya saja, bukan untukku. Untuk sekian
kalinya dia mengucapkan kalimat yang sama lagi, “salah kamu, terlalu baik sama
aku.”
Tiba lagi saat-saat yang sebenarnya hanya bisa
membuat speechless.. dan sepertinya
nafas terasa mendadak berhenti saat itu. “kamu suka sama aku?” (sambil mengirim
screenshot yang dia jadikan fakta untuk pertanyaan yang sangat mencekam itu..).
aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, ha. Kalau dia sendiri udah tau
jawabannya, kenapa harus bertanya lagi ? hanya untuk memastikan, iya..
sepertinya begitu.. dan hanya ingin mencari tahu kembali apa sebenarnya
perasaan-perasaan yang sedang ada disana. Memangnya salah kalau kangen ? dia
jawab, kalau kangen sama dia itu salah. Entah ada dibagian mana yang salah.
Rasa kangen itu kan manusiawi. Iya kan?? Iyaaaaa. Dia hanya terlalu heran
kenapa ada rasa kangen yang ada. Bodoh. Kurang peka. Kangen, karna udah lama ga
“ketemu” dan “whatsapp” an. Udah itu aja (bohong). Lagi-lagi dia menanyakan
alasan yang menurutnya masuk akal. Entah, entah apa yang ada dipikiranku saat
itu. tapi, jari-jari tangan ini menghasilkan kalimat yang mungkin akan menjawab
semua pertanyaannya..
“aku ga suka, tapi aku sayang. puas ? dan ga ada
alasan kenapa rasa sayang itu ada.”
Dengan menjawab satu kalimat itu, langsung timbul
beberapa pertanyaan yang semakin mencekam..
“kenapa bisa?”
“aku ngelakuin apa sampe kamu kaya gini?”
“ga nyesel kamu?”
“sayang sama bajingan kaya gini?”
“kalo rasa sayang itu ga terbalas gimana?”
“kamu udah tau kan?”
Tanpa pikir panjang, aku hanya bisa jawab.. aku ga
pernah nyesel kalau sayang sama orang apapun kondisinya. Ga masalah ga
terbalas, ga semua hal ada timbal baliknya.”
“makasih yah, udah sayang sama aku.”
Entah kenapa ucapan-ucapan makasih yang terlontar
darinya sama sekali sulit untuk dijawab, saat itu. untuk mengucapkan
“sama-sama” entah kenapa menjadi sangat sulit..
Lega. Sangat-sangat lega ketika sudah bilang sayang
kepada orang yang kita sayangi. Walaupun sebenarnya masih banyak sekali yang
ingin dicuap-cuapkan saat itu.
Dulu, pernah membahas tentang kepekaan dengannya. Aku
selalu menganggap kalau dia hanyalah seseorang yang tidak mempunyai rasa peka.
Tidak mengerti dengan yang disebut peka. Tidak peka sama sekali. Tapi, saat itu
dia bilang “aku bukan ga peka, pura-pura ga peka.” Kenapa dan apa untungnya
apa? Alasannya, Karena gabisa ngasih rasa sayang ke orang lain.”
Okesip. Itu semua udah memperlihatkan kalau dia
hanyalah seorang yang belum bisa move on
dari masa lalunya. Lalu? Mau seperti itu terus? Mau diam saja di posisi yang
seperti itu? mau menyakiti diri sendiri berlarut-larut seperti itu? hanya dia
yang bisa menjawab semua kalimat yang dihiasi dengan banyak tanda tanya itu..
“sakit ga?” tiba-tiba muncul pertanyaan yang membuat
berpikir kembali untuk menjawabnya. Akhirnya aku hanya bisa jawab “ngga, karna
udah banyak belajar dari orang lain juga kalau ada di posisi ini.” ditambah
dengan emotion nyengir. ah. lega. lega-selega-lega-nya.
Dia bilang, jangan sampai gagal move on. Ini pengalaman buat kamu. Jangan sampe kaya aku.
Ha. Kata-katanya hanya membuatku sangat-sangat ingin
ngejitak kepalanya :’)
Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa move on, tetapi nyuruh orang lain untuk
bisa move on? Sungguh tidak masuk di
akal……. Tapi, dia lagi-lagi bilang, ya udah jangan di contoh. (jangan dicontoh
gabisa move on nya).
Aku hanya bisa bilang padanya “harus inget, kalau
orang yang kita sayang bisa lebih bahagia sama orang lain ya kenapa ngga.”
Lagi-lagi dia mengucapkan “makasih”
Dan sekali-kalinya aku jawab, sama-sama, belajar buka
hati buat orang lain ya. Namanya juga belajar ya bertahap, pasti bisa.”
“belum nemu orang yang pas.” | seiring berjalannya
waktu *emot otot yang ada di whatsapp*
Akhirnya,, ada lebaran di tanggal duapuluh enam
desember. Kenapa ? karna saat itu kami hanya bisa saling minta maaf, saling
bilang makasih. Entah sudah berapa kali
dia minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Begitupun dengan aku.
Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini, yang
salah itu hanya perasaanku saja.