Kemarin.. kemarinnya hari kemarin kemarin itu adalah hari ulangtahunku,,
awalnya sih sungguh belum ingin menginjak hari itu. Tapi, aku bisa apa sih ?
emang aku bisa menghentikan waktu? Nggak. Bisa diam saja di satu hari yang ga
akan menginjak hari ulangtahun ku? Nggak juga. Okey, walaupun pada awalnya aku
tidak ingin berada dihari itu, tapi pada kenyataannya aku bisa ngejalanin hari
itu.
Memang hal apa yang tidak diinginkan
saat hari itu? Sungguh, akupun tak tau apa jawabnya, akupun memang tidak
mengerti apa yang aku inginkan, terlalu abstrak. Tapi, Tuhan mungkin tau. Yaps!
Tuhan tau apa aja yang aku inginkan, tapi apa.. Tuhan ga akan ngasih apa yang
kita inginkan kalau kita ga ada usaha untuk bisa mendapatkan apa yang
diinginkan itu. Tuhan pasti ngasih apa yang kita butuhkan dulu. Walaupun
mungkin kalau dirasakan, apa yang dibutuhkan sepertinya belum Ia jamah. Jadi,
bisa apa sih kita? Ya terus berdoa aja. Dan hal ini tidak pernah absen dan
tidak pernah bosan disisipkan didalam setiap doaku..
Hari ulangtahun, tidak lepas dari ucapan
selamat dan doa-doa yang terlontar dari orang-orang yang dikenal, maupun
mungkin yang tidak dikenal. Ucapan dan doa yang diaminkan di dunia nyata maupun
di dunia maya. Orang yang pertama kali mengucapkan selamat mungkin akan menjadi
sesuatu yang special buat yang ulangtahun. Tapi saat seseorang yang diharapkan
untuk mengucapkan dan mendoakan untuk pertama kali pada kenyataannya malah
tidak mengucapkan apapun. Sedih? Mungkin. Padahal di hari itu bertemu, aku
disana, dihadapannya, hanya bisa berpositif thinking ria. Oh, mungkin dia
memang tidak atau belum tau hari itu aku berulangtahun, mungkin dia belum buka facebooknya untuk melihat siapa saja
yang ulangtahun saat itu. Saat itu terlalu banyak kemungkinan yang
dimungkin-mungkinkan.
Disebelah dia duduk, seseorang yang
hari ulangtahunnya hanya berbeda dua hari dengan ku. Saat itu, dia menjabat
tangannya, mungkin sedang mengucapkan ulangtahun. Aku saat itu tidak ingin
melihat mukanya dan tidak ingin mendengar apapun yang diucapkannya saat
berjabat tangan dengan orang lain. Dan sedikit berharap setelah dia menjabat
tangan yang lain, dia akan menjabat tanganku. Mencari kesibukan agar tidak
melihat dan tidak mendengar yang ada di depanku, iya. Tapi, memang saat di
situasi itu, disana sedang tidak hening, tidak sepi, banyak teman-teman yang
lain. Jadi, aku tidak perlu mendengar yang mungkin tidak harus aku dengar.
Dan saat masih berpositif thinking
ria, hanya bisa berpikir.. oh, mungkin dia juga nanti mengucapkan ulangtahun
padaku. Masa iya yang dua hari lalu ulangtahun aja masih diucapin selamat dan
dijabat tangannya sedangkan orang yang sedang berulangtahun di hari itu ga
diberikan sekedar ucapan selamat atau doa. Tapi, memang kenyataan kadang dan
seringkali tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan. Dia tidak mengucapkan
apapun. Sedikitpun. Aku malah sedikit menyesal karna hari itu aku memberikan
senyuman termanisku dan pandangan-pandangan yang beberapa kali terhenti padanya.
Pandangan antara aku dan dia. Aku bisa apa lagi sih, Tuhan? :’)
Saat akan bubar, aku masih menunggu.
Masih menunggu untuk diberikan ucapan, hanya sekedar ucapan. Tapi, zonk. Ga habis pikir dan aku lagi-lagi
hanya bisa berpositif thinking. Oh, mungkin nanti dia akan mengucapkan lewat
dunia maya. Tapi, zonk lagi. Nyesek?
Iya. Dan lagi-lagi aku menyesalkan sesuatu. Dulu, aku mengucapkan ulangtahun
untuknya, malam hari, malam sebelum hari ulangtahunnya berakhir. Aku menunggu
malam hanya untuk dapat bisa menjadi orang yang terakhir mengucapkan ulangtahun
padanya. Ada timbal baliknya? Nggak. Nggak sedikitpun. Sekedar ucapan
terimakasih? Nggak juga. Akupun tidak mengerti, kenapa harus melakukan hal itu.
Rasanya terlalu bodoh. Sungguh, tidak ada keuntungannya. Tapi, apapun yang
dilakukan ga boleh mengharapkan imbalan kan? Hanya kalimat itu yang bisa
mengembalikan moodku saat itu.
Tapi, hari itu tidak se-zonk yang terjadi ataupun yang
dipikirkan. Saat itu, malam harinya ada doa Rosario. Walaupun yang berada
disana banyak yang tidak mengetahui saat itu aku berulangtahun (sebagian ada
yang tau) dan saat-saat acara sudah berakhir, ada yang mengingatkan, aku dan
salah satu yang hari kemarinnya berulangtahun juga tetap didoakan. Ucapan
selamat dan doa yang berhamburan, itu sudah membuatku terharu dan senang.
Walaupun tidak ada dia disana.
Nyanyian selamat ulangtahun, lilin
putih yang biasa dipakai saat mati lampu, wish, doa, ucapan selamat, jabatan
tangan dan yang terakhir The Gel*s. sederhana. aah Terimakasih banyaak :”)
Malam itu, sampai dirumah jam
setengah sepuluh malam. Cukup lelah hari itu. aku berpikir, ah mungkin sampai
dirumah pun tidak akan ada apapun. Sampai rumah, masuk kamar, ganti baju,
keluar kamar, ngecharge handphone.. daaaaaaaaann.. “selamat ulangtahun kami
ucapkan………” saat itu hanya Mama yang nyanyi :’) karna mungkin yang lain memang
sudah ngantuk dan sedikit terganggu tidurnya karna mau mengucapkan dan
mendoakan untukku :’D
Saat itu, sangat terharu. Kenapa?
Karna biasanya aku yang menyiapkan apapun kalau salah satu orang dirumah
berulangtahun, dan tahun-tahun sebelumnya walaupun aku selalu menyiapkan untuk
yang lain, saat ulangtahunku tidak ada yang memberikan kejutan kecil apapun.
dulu, hanya sekedar ucapan-ucapan yang terlalu sederhana. Miris? Nggak. Aku
emang ga pernah nuntut apapun. Walaupun mungkin hati kecilku berkata hal yang
lain.
Blackforest, enam batang lilin
ulangtahun yang kecil dan berwarna-warni. Akhirnya air matapun tak bisa
dibendung, terharu. Rasanya tidak pernah merasakan hal ini. Pelukan hangat,
ucapan, dan doa dari orangtua, kakak, adik. Memang itu yang sangat aku butuhkan
saat itu.
Terimakasih Tuhan atas bertambahnya
umurku. Aku tidak ingin menyebutkan umurnya. Rasanya sudah dewasa.. dewasa di
umur, tapi sangat-sangat belum dewasa dalam perilaku.
Tolong di jamah apapun doa-doa dan
harapan-harapan yang baik, Ya, Tuhan. Walaupun aku selalu tau apapun yang akan
Engkau berikan itu adalah apa yang aku sedang butuhkan. Bukan apa yang aku
inginkan
________________________________________________ditulis saat ingin menulis~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar