Jumat, sebelas juli dua ribu lima belas.. siang hari.
Ada aku, di taman bareti. Sendiri. –dan belum janjian dengan
siapapun- hanya dengan kertas angket revisi-an.
Lalu, aku update
status di bbm “baret(i)”.. seketika ada seseorang yang mengomentari statusku
tapi berkomentar dengan pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan
statusku. Dia hanya menanyakan bagaimana kabar UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa)
kami dan aku pun menjawab semua pertanyaannya. Sampai pada titik habis
pembicaraan (dan tidak ingin langsung usai) aku pun bertanya tentang keberadaan
dan aktivitasnya saat itu. Dia bilang hanya sedang berbaring di kosan alias malas-malasan tanpa aktivitas apapun.
Kami sudah cukup lama tidak bertemu dan mengobrol secara langsung. Iya, sudah cukup lama. Hanya bertukar
obrolan di sosial media, hanya
sebatas itu.
Aku, yang hanya sendiri di taman bareti. Dengan tidak
sengaja mengajaknya datang. Dia bertanya ada apa di bareti, ada aku, jawabku.
Di sini sepi, jawab ku lagi. Lalu dia menjawab sambil mungkin menjadi
pertanyaan “jadi ceritanya pengen di
temanin” dan aku menjawab seadanya, “kalo yang peka sih mungkin mikirnya gitu”.
Di dalam pembicaraan itu, aku sungguh tidak benar-benar mengharapkan ditemani olehnya.
Dia hanya menjawab “Iya”. Yang entah jawaban untuk apa karena semacam bukan
jawaban yang serius.
Tapi, entah kenapa.. memang di dalam pembicaraan itu, aku
sungguh-sungguh mengajaknya untuk hadir juga disana.
Selang beberapa menit kemudian, dia datang. Dia muncul
dihadapanku. Jam 13:18. Dia duduk di kursi semen kosong di sebelah kiri ku.
Sungguh, itu pertemuan yang awkward.
Dia tersenyum. Dengan wajah yang terlihat baru beranjak dari kasur dan dengan
muka yang terlihat hanya dibasahi air. Sedangkan aku, sedikit ngoceh sembari memukul kecil dan mencubit
sedikit lengan kanannya karena tidak menyangka dia datang dengan hanya
mengatakan “Iya” dalam pembicaraan di social
media tadi. Seketika hening sejenak, aku –dengan kertas revisian ku
ditemani dengan tindakan yang entah harus bagaimana.
Dia-dengan jari-jari jempol yang sibuk mengetik di handphonenya dan aku-dengan kertas yang
di bulak-balik supaya sedikit
memecahkan keheningan.
Aku hanya nyanyi-nyanyi kecil sambil bergumam di dalam hati,
entah apa yang akan terjadi lagi setelah ini.
Aku melihat sosoknya yang masih membuatku tidak menyangka
dia datang ke tempat itu untuk menemaniku. Dia, memakai jaket hitam dengan
menutupi kepalanya menggunakan penutup kepala di jaket. Kumisnya nampak semakin
panjang dan janggutnya semakin lebat. Sungguh, itu tampilan muka seorang lelaki
yang sudah cocok mempunyai anak kelas enam sekolah dasar dan anak yang kedua
mungkin masih di taman kanak-kanak.
Kami ngobrol sedikit,
entah membicarakan apa. Yang pasti bukan tentang masalah rasa.
Setelah cukup lama, dia mengajakku untuk pergi ke tempat UKM
kami berkumpul, sekre. Karena kami
sama-sama tau, ada beberapa teman kami yang sedang berada disana. Kami mengobrol dengan yang lainnya.
Singkat cerita, kami pergi makan ke warung surabi, dengan
dua orang teman kami juga. Kami berempat, dia satu-satunya lelaki cantik
diantara kami. Haks.
Kaku. Iya. Kami sama-sama kaku kalau dibiarkan hanya duduk
bersebelahan berdua. Terima kasih untuk kedua temanku yang bisa memecahkan
suasana... walaupun pada akhirnya, kalian tetap bilang... “kamu kayak kanebo
kering”.
Kami berempat banyak sekali bercerita. Cerita kami sangat
random, membicarakan apapun yang terlintas di pikiran kami. Tapi, ada satu
topik yang memang itu-itu lagi yang dibahas, yang tidak lain dan tidak bukan
adalah tentang “jodoh” hahaha. Posisi
kami disana memang sudah sama-sama berumur, sama-sama kepala 2, sama-sama
sedang single, sama-sama menanti
seseorang untuk di masa depan nanti.
Dari segala persamaan yang ada, kami pun ternyata memang
sungguh berbeda, ada yang batak, flores,
campuran batak dan flores, dan kalimantan. Ada yang sedang senang,
sedih, kesel, biasa saja, bingung, atau mungkin.. jatuh cinta.
Banyak sekali pelajaran yang membuat berpikir.
Kalimat-kalimat yang dapat menganggukkan kepala, quote-quote yang membuat nyengir,
dan masih banyak lagi.
Singkat cerita lagi, akhirnya kami pulang. Setelah aku
sampai di rumah, aku mengucapkan terima kasih pada dia. Dia yang dengan
polosnya menjawab terima kasih untuk apa?
Aku yakin itu bukan pertanyaan yang benar-benar pertanyaan. Dia hanya ingin
memastikan apa yang dia pikirkan dengan apa yang akan aku jawab. Dan pada
akhirnya kami tetap chatting-an sampai
tengah malam. Pembicaraan kami seakan-akan sehari tadi itu sangat kurang untuk
bertemu dan ngobrol.
Terima kasih pernah muncul di saat yang tidak pernah di
duga. Terima kasih sudah banyak mengukir cerita. Terima kasih pernah ada.
Terima kasih untuk senyumannya. Terima kasih.