Senin, 13 Juli 2015

dia yang lain



Jumat, sebelas juli dua ribu lima belas.. siang hari.
Ada aku, di taman bareti. Sendiri. –dan belum janjian dengan siapapun- hanya dengan kertas angket revisi-an.
Lalu, aku update status di bbm “baret(i)”.. seketika ada seseorang yang mengomentari statusku tapi berkomentar dengan pertanyaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan statusku. Dia hanya menanyakan bagaimana kabar UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) kami dan aku pun menjawab semua pertanyaannya. Sampai pada titik habis pembicaraan (dan tidak ingin langsung usai) aku pun bertanya tentang keberadaan dan aktivitasnya saat itu. Dia bilang hanya sedang berbaring di kosan alias malas-malasan tanpa aktivitas apapun.
Kami sudah cukup lama tidak bertemu dan mengobrol secara langsung. Iya, sudah cukup lama. Hanya bertukar obrolan di sosial media, hanya sebatas itu.
Aku, yang hanya sendiri di taman bareti. Dengan tidak sengaja mengajaknya datang. Dia bertanya ada apa di bareti, ada aku, jawabku. Di sini sepi, jawab ku lagi. Lalu dia menjawab sambil mungkin menjadi pertanyaan “jadi ceritanya pengen di temanin” dan aku menjawab seadanya, “kalo yang peka sih mungkin mikirnya gitu”. Di dalam pembicaraan itu, aku sungguh tidak benar-benar mengharapkan ditemani olehnya. Dia hanya menjawab “Iya”. Yang entah jawaban untuk apa karena semacam bukan jawaban yang serius.
Tapi, entah kenapa.. memang di dalam pembicaraan itu, aku sungguh-sungguh mengajaknya untuk hadir juga disana.
Selang beberapa menit kemudian, dia datang. Dia muncul dihadapanku. Jam 13:18. Dia duduk di kursi semen kosong di sebelah kiri ku. Sungguh, itu pertemuan yang awkward. Dia tersenyum. Dengan wajah yang terlihat baru beranjak dari kasur dan dengan muka yang terlihat hanya dibasahi air. Sedangkan aku, sedikit ngoceh sembari memukul kecil dan mencubit sedikit lengan kanannya karena tidak menyangka dia datang dengan hanya mengatakan “Iya” dalam pembicaraan di social media tadi. Seketika hening sejenak, aku –dengan kertas revisian ku ditemani dengan tindakan yang entah harus bagaimana.
Dia-dengan jari-jari jempol yang sibuk mengetik di handphonenya dan aku-dengan kertas yang di bulak-balik supaya sedikit memecahkan keheningan.
Aku hanya nyanyi-nyanyi kecil sambil bergumam di dalam hati, entah apa yang akan terjadi lagi setelah ini.
Aku melihat sosoknya yang masih membuatku tidak menyangka dia datang ke tempat itu untuk menemaniku. Dia, memakai jaket hitam dengan menutupi kepalanya menggunakan penutup kepala di jaket. Kumisnya nampak semakin panjang dan janggutnya semakin lebat. Sungguh, itu tampilan muka seorang lelaki yang sudah cocok mempunyai anak kelas enam sekolah dasar dan anak yang kedua mungkin masih di taman kanak-kanak. 
Kami ngobrol sedikit, entah membicarakan apa. Yang pasti bukan tentang masalah rasa.
Setelah cukup lama, dia mengajakku untuk pergi ke tempat UKM kami berkumpul, sekre. Karena kami sama-sama tau, ada beberapa teman kami yang sedang berada disana. Kami mengobrol dengan yang lainnya.
Singkat cerita, kami pergi makan ke warung surabi, dengan dua orang teman kami juga. Kami berempat, dia satu-satunya lelaki cantik diantara kami. Haks.
Kaku. Iya. Kami sama-sama kaku kalau dibiarkan hanya duduk bersebelahan berdua. Terima kasih untuk kedua temanku yang bisa memecahkan suasana... walaupun pada akhirnya, kalian tetap bilang... “kamu kayak kanebo kering”.
Kami berempat banyak sekali bercerita. Cerita kami sangat random, membicarakan apapun yang terlintas di pikiran kami. Tapi, ada satu topik yang memang itu-itu lagi yang dibahas, yang tidak lain dan tidak bukan adalah tentang “jodoh” hahaha. Posisi kami disana memang sudah sama-sama berumur, sama-sama kepala 2, sama-sama sedang single, sama-sama menanti seseorang untuk di masa depan nanti.
Dari segala persamaan yang ada, kami pun ternyata memang sungguh berbeda, ada yang batak, flores, campuran batak dan flores, dan kalimantan. Ada yang sedang senang, sedih, kesel, biasa saja, bingung, atau mungkin.. jatuh cinta.
Banyak sekali pelajaran yang membuat berpikir. Kalimat-kalimat yang dapat menganggukkan kepala, quote-quote yang membuat nyengir, dan masih banyak lagi.
Singkat cerita lagi, akhirnya kami pulang. Setelah aku sampai di rumah, aku mengucapkan terima kasih pada dia. Dia yang dengan polosnya menjawab terima kasih untuk apa? Aku yakin itu bukan pertanyaan yang benar-benar pertanyaan. Dia hanya ingin memastikan apa yang dia pikirkan dengan apa yang akan aku jawab. Dan pada akhirnya kami tetap chatting-an sampai tengah malam. Pembicaraan kami seakan-akan sehari tadi itu sangat kurang untuk bertemu dan ngobrol.
Terima kasih pernah muncul di saat yang tidak pernah di duga. Terima kasih sudah banyak mengukir cerita. Terima kasih pernah ada. Terima kasih untuk senyumannya. Terima kasih.